Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Pencak Silat


Catatan harian bertanggal 15 April 2017:

Its been long time tidak menulis. Tiba-tiba seabreg kesibukan membuat saya malas menulis. 

Kesibukan bersama 60-an murid mengaji masih mengasyikan buat saya. Kong Ali dan keluarganya juga masih setia menjamu kami setiap hari mengaji. Beberapa teman saya pun ikut mendukung kegiatan ini dengan mengirimkan alat-alat tulis, alat peraga maupun makanan. Ada yang mau kirim uang tapi saya tolak. Alasannya kita bukan yayasan, tidak ada admin khusus untuk mengecek keluar masuk uang.

Kegiatan belajar dipagi menjadi 4 sesi, 09.00-10.30, 15.30-6.45, 16.45-18.00 dan 18.25-20.15. Dari balita hingga ibu-ibu. Total ada 60-an. Bisa dibayangkan berapa banyak makanan yang kita masak saban Jumat untuk makan malam bersama di atas daun pisang.

Kali ini kami punya kegiatan ekstra di sela-sela kesibukan mengaji, yaitu pencak silat. Sebenarnya awalnya kenapa saya berinisiatif mengadakan latihan ini karena beberapa santri perempuan yang masih SD sering mengadu ke saya sering dipegang-pegang sama abang-abang yang nongkrong di jalan saat pulang sekolah. Ada juga santri laki-laki yang jadi korban bully. Makanya saya dan pengurus TPA gratis ini mengundang guru silat.

Selain itu di bulan Agustus ini kami akan menggelar pentas pertunjukan ala Sandiwara Kampung. Lakonnya, "Mirah, Singa Betina dari Betawi". 

Sepertinya kisah ini pernah saya posting di sini beberapa bulan silam. Tentang Mirah pendekar perempuan asal Marunda yang diperebutkan oleh dua jawara Betawi Asni (protagonis) dan Tirta (antagonis). Padahal aslinya Asni dan Tirta saudara kandung yang terpisah. 

Jadi paling tidak pemeran utama dan figuran di lakon ini harus mumpuni dalam memainkan jurus-jurus silat. Jadi sekalian deh....

Dalam waktu dekat kami juga akan mengadakan kelas memanah untuk para santri. Dan semuanya gratis! 

Alhamdulillah sekarang saya tidak berjuang sendirian, ada dua ustadz yang ikut membantu, 2 asisten guru, 1 admin, plus 2 guru silat. Insya Allah sebentar lagi akan bergabung satu atlet panahan yang juga ustadz.

Di belakang kami ada deretan orang-orang berhati baik yang selalu tulus menyemangati dan memberi dorongan moril dan materil. Alhamdulillah! 

Sedang ikhtiar mendekati lembaga kompenten untuk membantu beasiswa anak-anak didik kami yang mayoritas sangat kekurangan. Setidaknya mereka ini tidak putus sekolah.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya