Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Pencak Silat


Catatan harian bertanggal 15 April 2017:

Its been long time tidak menulis. Tiba-tiba seabreg kesibukan membuat saya malas menulis. 

Kesibukan bersama 60-an murid mengaji masih mengasyikan buat saya. Kong Ali dan keluarganya juga masih setia menjamu kami setiap hari mengaji. Beberapa teman saya pun ikut mendukung kegiatan ini dengan mengirimkan alat-alat tulis, alat peraga maupun makanan. Ada yang mau kirim uang tapi saya tolak. Alasannya kita bukan yayasan, tidak ada admin khusus untuk mengecek keluar masuk uang.

Kegiatan belajar dipagi menjadi 4 sesi, 09.00-10.30, 15.30-6.45, 16.45-18.00 dan 18.25-20.15. Dari balita hingga ibu-ibu. Total ada 60-an. Bisa dibayangkan berapa banyak makanan yang kita masak saban Jumat untuk makan malam bersama di atas daun pisang.

Kali ini kami punya kegiatan ekstra di sela-sela kesibukan mengaji, yaitu pencak silat. Sebenarnya awalnya kenapa saya berinisiatif mengadakan latihan ini karena beberapa santri perempuan yang masih SD sering mengadu ke saya sering dipegang-pegang sama abang-abang yang nongkrong di jalan saat pulang sekolah. Ada juga santri laki-laki yang jadi korban bully. Makanya saya dan pengurus TPA gratis ini mengundang guru silat.

Selain itu di bulan Agustus ini kami akan menggelar pentas pertunjukan ala Sandiwara Kampung. Lakonnya, "Mirah, Singa Betina dari Betawi". 

Sepertinya kisah ini pernah saya posting di sini beberapa bulan silam. Tentang Mirah pendekar perempuan asal Marunda yang diperebutkan oleh dua jawara Betawi Asni (protagonis) dan Tirta (antagonis). Padahal aslinya Asni dan Tirta saudara kandung yang terpisah. 

Jadi paling tidak pemeran utama dan figuran di lakon ini harus mumpuni dalam memainkan jurus-jurus silat. Jadi sekalian deh....

Dalam waktu dekat kami juga akan mengadakan kelas memanah untuk para santri. Dan semuanya gratis! 

Alhamdulillah sekarang saya tidak berjuang sendirian, ada dua ustadz yang ikut membantu, 2 asisten guru, 1 admin, plus 2 guru silat. Insya Allah sebentar lagi akan bergabung satu atlet panahan yang juga ustadz.

Di belakang kami ada deretan orang-orang berhati baik yang selalu tulus menyemangati dan memberi dorongan moril dan materil. Alhamdulillah! 

Sedang ikhtiar mendekati lembaga kompenten untuk membantu beasiswa anak-anak didik kami yang mayoritas sangat kekurangan. Setidaknya mereka ini tidak putus sekolah.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak