Kesibukan Ramadhan Tahun Ini

Image
Masih lama dari deadline pendaftaran 1 Mei 2018. Tapi panitia sudah mulai sibuk, cetak-cetak yang perlu dicetak, video editing dan narasi sudah mulai digarap oleh tim ahli.  Karena Insya Allah, tahun ini BEDA. 
Hafalan tahun ini didukung dengan audio visual yang mumpuni untuk mempermudah proses hafalan ala metode Kauny ini. Insya Allah menggunakan 'fun theory' tapi tetap syar'i. 
Memang cuma 2 hari tapi 'full schedule'. Meski ada target hafalan, peserta juga akan mendapatkan materi lain untuk pemahaman surah Al Kahfi. Ada juga games untuk memudahkan proses hafalan dengan menggunakan flash card khusus, makanya workshop menghafal ini cocok dari anak-anak, sampai dewasa. 
Tim kami tak hanya digawangi oleh Majelis Al Kahfi, ibu-ibu yang sudah duluan menghafal Al kahfi, juga ada para profesional lulusan universitas dan pesantren ternama.
Kami sebetulnya hanya kumpulan orang fakir ilmu yang masih akan terus belajar sampai mati, sambil mentransfer sedikit ilmu kami. Kala…

Flashback: Panti Asuhan


Catatan harian bertanggal 30 April 2017:


Hari masih pagi, tapi anak-anak sudah heboh kapan saya mulai memasak untuk hidangan istimewa di hari Jumat. Padahal saya masih ingin leyeh-leyeh di atas ranjang sambil murojaah.

"Nanti dulu, masih pagi. Sarapan juga belum, sudah mikirin makan siang dan makan malam".

Saya pun melanjutkan acara leyeh-leyeh di ranjang, mumpung pagi ini tidak ada kelas karena saya harus memasak. Dan tak lama, anak-anak kembali mengucap salam sambil menggedor pintu tak sabaran. 

"Iya iya saya turun", saya ambil hijab sembarangan lalu bergegas turun menyambut anak-anak.

"Ayo bu...kami bantu!"

"Iya bu sudah jam sembilan"

Wajah-wajah sumringah gadis-gadis kecil dengan hijabnya sudah menanti saya di depan pintu. Maka mau tidak mau saya melangkah ke dapur mengeluarkan persediaan bahan makanan untuk hari ini. 

Anak-anak berebut pisau untuk mulai mengupas bawang, ada yang memasak nasi, memotong sayuran, mencuci ayam, dan lain-lain. Tentu saja diiringi dengan teteriakan, "ibu nasinya seberapa?"
"Airnya seberapa?"
"Bawangnya diapain"
"Mau masak apa kita bu?"

Ampun deh! Padahal hanya delapan bocah di dapur tapi sudah seperti ratusan. Sebagian anak yang tidak suka dapur memang memilih bebenah di luar dapur termasuk menyapu halaman depan rumah saya yang tidak luas.

Pukul sebelas, sebagian masakan sudah hampir kelar. Kurir pengemudi ojek online datang membawa donasi makanan dari salah seorang sahabat. Saya menyuruh salah satu anak menerima sambil menyelipkan uang tips alakadarnya. Setelah serah terima, pengemudi ojek online berdiri mematung di depan rumah dengan tatapan bingung.

"Dek, ini sekolahan ya?" Tanya pengemudi ojek. Saya pun mendengarnya dari dalam. 

Salah seorang anak yang sedang menyapu di luar menggeleng, "bukan pak"

"Apa ini panti asuhan?" Tanya pengemudi ojek lagi.

"Bukan!"

"Terus apa ini?"

"Anak-anak pengajian pak.."

"Ohh pesantren ya?"

Rupanya anak-anak sudah malas menjawab. Akhirnya pengemudi gojek menyerah dan memilih diam kemudian pergi.

Pukul dua belas, anak-anak bergegas menyiapkan lebih dari 60 es buah di gelas plastik untuk dibawa ke masjid, menjamu para jamaah shalat Jumat. Sebagian besar berangkat ke masjid, sebagian lagi membantu saya menyiapkan makan siang.

Karena tepat pukul setengah satu, anak-anak akan berlarian dari masjid dengan kelaparan. Selepas shalat, kami akan makan bersama. 

Saat makan, kurir pengemudi online lainnya datang membawa sedekah makanan dari sahabat saya untuk makan bersama dengan 70 santri nanti malam. 

Dan ekspresi si pengemudi tak jauh beda, bengong melihat hampir 20 anak putri makan siang bersama. 

Sebelum ditanya, anak-anak kompak berseru, "ini bukan panti asuhan pak!"

Si pengemudi ojek online bingung. Anak-anak tertawa cekikikan.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset