Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Panti Asuhan


Catatan harian bertanggal 30 April 2017:


Hari masih pagi, tapi anak-anak sudah heboh kapan saya mulai memasak untuk hidangan istimewa di hari Jumat. Padahal saya masih ingin leyeh-leyeh di atas ranjang sambil murojaah.

"Nanti dulu, masih pagi. Sarapan juga belum, sudah mikirin makan siang dan makan malam".

Saya pun melanjutkan acara leyeh-leyeh di ranjang, mumpung pagi ini tidak ada kelas karena saya harus memasak. Dan tak lama, anak-anak kembali mengucap salam sambil menggedor pintu tak sabaran. 

"Iya iya saya turun", saya ambil hijab sembarangan lalu bergegas turun menyambut anak-anak.

"Ayo bu...kami bantu!"

"Iya bu sudah jam sembilan"

Wajah-wajah sumringah gadis-gadis kecil dengan hijabnya sudah menanti saya di depan pintu. Maka mau tidak mau saya melangkah ke dapur mengeluarkan persediaan bahan makanan untuk hari ini. 

Anak-anak berebut pisau untuk mulai mengupas bawang, ada yang memasak nasi, memotong sayuran, mencuci ayam, dan lain-lain. Tentu saja diiringi dengan teteriakan, "ibu nasinya seberapa?"
"Airnya seberapa?"
"Bawangnya diapain"
"Mau masak apa kita bu?"

Ampun deh! Padahal hanya delapan bocah di dapur tapi sudah seperti ratusan. Sebagian anak yang tidak suka dapur memang memilih bebenah di luar dapur termasuk menyapu halaman depan rumah saya yang tidak luas.

Pukul sebelas, sebagian masakan sudah hampir kelar. Kurir pengemudi ojek online datang membawa donasi makanan dari salah seorang sahabat. Saya menyuruh salah satu anak menerima sambil menyelipkan uang tips alakadarnya. Setelah serah terima, pengemudi ojek online berdiri mematung di depan rumah dengan tatapan bingung.

"Dek, ini sekolahan ya?" Tanya pengemudi ojek. Saya pun mendengarnya dari dalam. 

Salah seorang anak yang sedang menyapu di luar menggeleng, "bukan pak"

"Apa ini panti asuhan?" Tanya pengemudi ojek lagi.

"Bukan!"

"Terus apa ini?"

"Anak-anak pengajian pak.."

"Ohh pesantren ya?"

Rupanya anak-anak sudah malas menjawab. Akhirnya pengemudi gojek menyerah dan memilih diam kemudian pergi.

Pukul dua belas, anak-anak bergegas menyiapkan lebih dari 60 es buah di gelas plastik untuk dibawa ke masjid, menjamu para jamaah shalat Jumat. Sebagian besar berangkat ke masjid, sebagian lagi membantu saya menyiapkan makan siang.

Karena tepat pukul setengah satu, anak-anak akan berlarian dari masjid dengan kelaparan. Selepas shalat, kami akan makan bersama. 

Saat makan, kurir pengemudi online lainnya datang membawa sedekah makanan dari sahabat saya untuk makan bersama dengan 70 santri nanti malam. 

Dan ekspresi si pengemudi tak jauh beda, bengong melihat hampir 20 anak putri makan siang bersama. 

Sebelum ditanya, anak-anak kompak berseru, "ini bukan panti asuhan pak!"

Si pengemudi ojek online bingung. Anak-anak tertawa cekikikan.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak