Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Panti Asuhan


Catatan harian bertanggal 30 April 2017:


Hari masih pagi, tapi anak-anak sudah heboh kapan saya mulai memasak untuk hidangan istimewa di hari Jumat. Padahal saya masih ingin leyeh-leyeh di atas ranjang sambil murojaah.

"Nanti dulu, masih pagi. Sarapan juga belum, sudah mikirin makan siang dan makan malam".

Saya pun melanjutkan acara leyeh-leyeh di ranjang, mumpung pagi ini tidak ada kelas karena saya harus memasak. Dan tak lama, anak-anak kembali mengucap salam sambil menggedor pintu tak sabaran. 

"Iya iya saya turun", saya ambil hijab sembarangan lalu bergegas turun menyambut anak-anak.

"Ayo bu...kami bantu!"

"Iya bu sudah jam sembilan"

Wajah-wajah sumringah gadis-gadis kecil dengan hijabnya sudah menanti saya di depan pintu. Maka mau tidak mau saya melangkah ke dapur mengeluarkan persediaan bahan makanan untuk hari ini. 

Anak-anak berebut pisau untuk mulai mengupas bawang, ada yang memasak nasi, memotong sayuran, mencuci ayam, dan lain-lain. Tentu saja diiringi dengan teteriakan, "ibu nasinya seberapa?"
"Airnya seberapa?"
"Bawangnya diapain"
"Mau masak apa kita bu?"

Ampun deh! Padahal hanya delapan bocah di dapur tapi sudah seperti ratusan. Sebagian anak yang tidak suka dapur memang memilih bebenah di luar dapur termasuk menyapu halaman depan rumah saya yang tidak luas.

Pukul sebelas, sebagian masakan sudah hampir kelar. Kurir pengemudi ojek online datang membawa donasi makanan dari salah seorang sahabat. Saya menyuruh salah satu anak menerima sambil menyelipkan uang tips alakadarnya. Setelah serah terima, pengemudi ojek online berdiri mematung di depan rumah dengan tatapan bingung.

"Dek, ini sekolahan ya?" Tanya pengemudi ojek. Saya pun mendengarnya dari dalam. 

Salah seorang anak yang sedang menyapu di luar menggeleng, "bukan pak"

"Apa ini panti asuhan?" Tanya pengemudi ojek lagi.

"Bukan!"

"Terus apa ini?"

"Anak-anak pengajian pak.."

"Ohh pesantren ya?"

Rupanya anak-anak sudah malas menjawab. Akhirnya pengemudi gojek menyerah dan memilih diam kemudian pergi.

Pukul dua belas, anak-anak bergegas menyiapkan lebih dari 60 es buah di gelas plastik untuk dibawa ke masjid, menjamu para jamaah shalat Jumat. Sebagian besar berangkat ke masjid, sebagian lagi membantu saya menyiapkan makan siang.

Karena tepat pukul setengah satu, anak-anak akan berlarian dari masjid dengan kelaparan. Selepas shalat, kami akan makan bersama. 

Saat makan, kurir pengemudi online lainnya datang membawa sedekah makanan dari sahabat saya untuk makan bersama dengan 70 santri nanti malam. 

Dan ekspresi si pengemudi tak jauh beda, bengong melihat hampir 20 anak putri makan siang bersama. 

Sebelum ditanya, anak-anak kompak berseru, "ini bukan panti asuhan pak!"

Si pengemudi ojek online bingung. Anak-anak tertawa cekikikan.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya