Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Nonton Bioskop


Catatan harian ini bertanggal 11 Maret 2017:

Namanya Apid, tentu saja itu hanya nama panggilan si bocah gendut yang supel. Siapa yang tak kenal Apid, bocah yang mudah akrab dengan siapapun. Semua orang suka berteman dengan Apid yang gemar main sepakbola.

Apid adalah sepupu Adam dan Michael bocah Amerika. Apid adalah santri pertama saya. Saya tahu persis perjuangan dia belajar dari Alif hingga kini mulai biaa membaca Al quran meskipun masih terbata-bata.

Apid memang bukan bocah pintar yang bisa dengan cepat menyerap materi. Di sekolah pun nilainya termasuk paling buncit. Tapi Apid punya semangat yang tinggi untuk belajar.

Apid adalah bocah yang senang membantu. Biasanya kalau kita makan-makan, Apid yang laki-laki tak canggung membantu di dapur. Dari mengupas bawang, hingga menumis. Dia juga menjadi humas saya. Saya bahkan mengatakan kepadanya bahwa dia asisten saya. Tentu saja dia girang disebut sebagai "tangan kanan saya".

Namun sayang, setiap saya mengadakan ujian lisan maupun tulisan, nilai Apid termasuk yang paling jelek. Hingga saya tidak pernah memberinya reward apapun. Hingga suatu hari selepas pentas, neneknya yang dipanggil bunda bilang, "Apid kemarin pulang kesal. Dia bilang katanya aku asisten tapi masa gak dapat hadiah apapun seperti teman-temannya".

Saya jelaskan kalau nilai ujian Apid kurang dari 60%. Hafalan Apid pun sangat kurang. Meskipun saya akui, Apid termasuk salah satu santri favorit saya.

Waktu saya bilang ke suami, suami saya pun merasa anak ini istimewa. Dia patut diberi reward istimewa juga, bukan hanya hadiah yang diumumkan di panggung.

Dan siang ini saya memanggil Apid, saya bilang, "hari ini saya akan ajak jalan-jalan kamu, nonton dan makan. Ini adalah reward kamu sebagai asisten saya. Kamu boleh ajak 2 teman yang kamu pikir layak untuk ikut jalan dan makan bersama kita". Apid girang... Dan dia datang kembali membawa 2 teman, Dulah dan Sakti yang sama-sama mengaji dengan saya.

Dulah ini sebenarnya sering jadi bahan pembicaraan saya dan suami. Dia sudah beberapa kali tinggal kelas. Di kelas mengaji pun kemampuannya masih jauh di bawah Apid. 

Fathullah adalah warga kampung yang logatnya Betawi sekali. Kalau dia bicara, semua orang pasti tahu kalau dia Betawi Pinggiran. Dia menyebut "tidak" bukan "kagak" tapi "ora". Kulitnya pun tidak mulus tapi bersisik dan eksim, seperti jarang kena sabun. 

Dulah sama seperti Cindy dan kebanyakan santri lainnya yang belum pernah menginjak mal, apalagi nonton bioskop dan makan di resto. 

Maka pergilah kami ke Bintaro Exchange, mal megah yang tak jauh dari rumah kami. Saya bisa lihat bagaimana Dulah tampak heran dan minder. Mungkin kalau ada yang merekam ekspresi Dulah, mirip seperti adegan di film/sinetron tentang orang kampung pergi ke kota. Matanya jelalatan melihat ke sekeliling, mulutnya melongo. 

Saya tahu persis dia sangat grogi. Bahkan untuk masuk ke dalam pintu kaca saja dia sudah salah tingkah. Saya harus memegang tangannya demi menenangkan batinnya yang berkecamuk. 

Setelah membeli tiket bioskop kami melipir ke resto karena masih ada waktu 1,5 jam sebelum film dimulai. Saya sengaja pilih gerai Pizza, karena Dulah belum pernah makan pizza selain buatan saya yang rasanya gitu deh. 

Dulah lebih banyak diam, dia menikmati makanannya sambil matanya berkeliaran mengawasi sekeliling. Sekalinya berbincang dengan Sakti, pembicaraannya membuat saya rada malu karena dilihat aneh oleh orang-orang. 

Kelar shalat Ashar, kami langsung menuju bioskop karena pertunjukan hampir dimulai. Masuk ke dalam bioskop, anak-anak asal duduk di posisi yang menurut mereka 'enak'. Hingga saya menunjukkan bahwa di tiket ada tulisan dimana kita harus duduk. 

"Ooo kirain langsung duduk aja, ya ora ngarti kalo gini mah. Orang ini baru pertama", Dulah dengan logat betawinya rada keras, disambut Sakti. Apid lebih jaim. Alhasil kami jadi tontonan orang-orang.

Mungkin bagi Apid, nonton di bioskop dan makan di gerai pizza bukan hal baru. Tapi ini adalah pengalaman baru untuk Dulah dan Sakti.

Kelar nonton, Dulah masih tak percaya kalau dia akhirnya nonton bioskop. Dan dia semacam bangga, akhirnya dia jadi yang pertama di keluarganya bisa nonton di bioskop dan makan-makan.

Ini kisah Sabtuku, bagaimana dengan kamu?

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak