Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Nonton Bioskop


Catatan harian ini bertanggal 11 Maret 2017:

Namanya Apid, tentu saja itu hanya nama panggilan si bocah gendut yang supel. Siapa yang tak kenal Apid, bocah yang mudah akrab dengan siapapun. Semua orang suka berteman dengan Apid yang gemar main sepakbola.

Apid adalah sepupu Adam dan Michael bocah Amerika. Apid adalah santri pertama saya. Saya tahu persis perjuangan dia belajar dari Alif hingga kini mulai biaa membaca Al quran meskipun masih terbata-bata.

Apid memang bukan bocah pintar yang bisa dengan cepat menyerap materi. Di sekolah pun nilainya termasuk paling buncit. Tapi Apid punya semangat yang tinggi untuk belajar.

Apid adalah bocah yang senang membantu. Biasanya kalau kita makan-makan, Apid yang laki-laki tak canggung membantu di dapur. Dari mengupas bawang, hingga menumis. Dia juga menjadi humas saya. Saya bahkan mengatakan kepadanya bahwa dia asisten saya. Tentu saja dia girang disebut sebagai "tangan kanan saya".

Namun sayang, setiap saya mengadakan ujian lisan maupun tulisan, nilai Apid termasuk yang paling jelek. Hingga saya tidak pernah memberinya reward apapun. Hingga suatu hari selepas pentas, neneknya yang dipanggil bunda bilang, "Apid kemarin pulang kesal. Dia bilang katanya aku asisten tapi masa gak dapat hadiah apapun seperti teman-temannya".

Saya jelaskan kalau nilai ujian Apid kurang dari 60%. Hafalan Apid pun sangat kurang. Meskipun saya akui, Apid termasuk salah satu santri favorit saya.

Waktu saya bilang ke suami, suami saya pun merasa anak ini istimewa. Dia patut diberi reward istimewa juga, bukan hanya hadiah yang diumumkan di panggung.

Dan siang ini saya memanggil Apid, saya bilang, "hari ini saya akan ajak jalan-jalan kamu, nonton dan makan. Ini adalah reward kamu sebagai asisten saya. Kamu boleh ajak 2 teman yang kamu pikir layak untuk ikut jalan dan makan bersama kita". Apid girang... Dan dia datang kembali membawa 2 teman, Dulah dan Sakti yang sama-sama mengaji dengan saya.

Dulah ini sebenarnya sering jadi bahan pembicaraan saya dan suami. Dia sudah beberapa kali tinggal kelas. Di kelas mengaji pun kemampuannya masih jauh di bawah Apid. 

Fathullah adalah warga kampung yang logatnya Betawi sekali. Kalau dia bicara, semua orang pasti tahu kalau dia Betawi Pinggiran. Dia menyebut "tidak" bukan "kagak" tapi "ora". Kulitnya pun tidak mulus tapi bersisik dan eksim, seperti jarang kena sabun. 

Dulah sama seperti Cindy dan kebanyakan santri lainnya yang belum pernah menginjak mal, apalagi nonton bioskop dan makan di resto. 

Maka pergilah kami ke Bintaro Exchange, mal megah yang tak jauh dari rumah kami. Saya bisa lihat bagaimana Dulah tampak heran dan minder. Mungkin kalau ada yang merekam ekspresi Dulah, mirip seperti adegan di film/sinetron tentang orang kampung pergi ke kota. Matanya jelalatan melihat ke sekeliling, mulutnya melongo. 

Saya tahu persis dia sangat grogi. Bahkan untuk masuk ke dalam pintu kaca saja dia sudah salah tingkah. Saya harus memegang tangannya demi menenangkan batinnya yang berkecamuk. 

Setelah membeli tiket bioskop kami melipir ke resto karena masih ada waktu 1,5 jam sebelum film dimulai. Saya sengaja pilih gerai Pizza, karena Dulah belum pernah makan pizza selain buatan saya yang rasanya gitu deh. 

Dulah lebih banyak diam, dia menikmati makanannya sambil matanya berkeliaran mengawasi sekeliling. Sekalinya berbincang dengan Sakti, pembicaraannya membuat saya rada malu karena dilihat aneh oleh orang-orang. 

Kelar shalat Ashar, kami langsung menuju bioskop karena pertunjukan hampir dimulai. Masuk ke dalam bioskop, anak-anak asal duduk di posisi yang menurut mereka 'enak'. Hingga saya menunjukkan bahwa di tiket ada tulisan dimana kita harus duduk. 

"Ooo kirain langsung duduk aja, ya ora ngarti kalo gini mah. Orang ini baru pertama", Dulah dengan logat betawinya rada keras, disambut Sakti. Apid lebih jaim. Alhasil kami jadi tontonan orang-orang.

Mungkin bagi Apid, nonton di bioskop dan makan di gerai pizza bukan hal baru. Tapi ini adalah pengalaman baru untuk Dulah dan Sakti.

Kelar nonton, Dulah masih tak percaya kalau dia akhirnya nonton bioskop. Dan dia semacam bangga, akhirnya dia jadi yang pertama di keluarganya bisa nonton di bioskop dan makan-makan.

Ini kisah Sabtuku, bagaimana dengan kamu?

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya