Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Namanya Ega



Catatan harian ini bertanggal 6 September 2016:


Malam itu, seorang gadis kecil dengan down syndrome duduk manis di pojok ruang. Sesekali gadis itu membenahi kerudungnya. Tangan kanannya menggenggam erat buku kecil bertuliskan “Iqra”.

Matanya berganti-ganti mengamati saya yang sedang mengajar ngaji, menatap anak-anak lain yang sedang menghafal surat Ar Rahman, atau melirik balita yang sedang asyik mewarnai huruf Arab. Saya pun mencuri pandang ke gadis kecil itu. Sesekali, matanya menangkap basah saya yang asyik mencuri pandang kepadanya.

Setelah dua belas anak kelas junior mendapat giliran mengaji dengan saya atau asisten saya Najwa. Saya pun menegurnya.

“Hai cantik, sedang apa di situ? Boleh kenalan?” Gadis itu menunduk dan memeluk erat buku Iqra-nya.

Tidak ada jawaban, bahkan si gadis dengan wajah khas down syndrome itu semakin terlihat takut. Waduh, saya jadi khawatir telah salah langkah. Karena ini perjumpaan saya pertama dengan gadis seistimewa dia.

“Namanya Ega bu…” Najwa Asisten saya, gadis 11 tahun yang sudah Al Quran juz 4 menerangkan.

“Oh Ega…” Saya masih memandangi gadis kecil itu yang terlihat sekali menghindari tatapan saya.

“Ega sayang mau mengaji?” Tanya saya lagi lembut dengan bertabur senyum.

Ega malah semakin terlihat takut. Waduh, apa wajah saya terlihat seperti serigala. Saya jadi takut sendiri kalau dia kabur dan lari terbirit-birit.

Karena mengejar waktu. Kurang dari 15 menit lagi, kelas senior harus sudah masuk maka saya urung merayu Ega yang terlihat masih canggung untuk saya ajari mengaji.

“Kalau masih malu, Ega boleh duduk di situ sambil mengamati kami ya. Ega boleh ikut menghafal surat Ar Rahman kalau mau…”

Ega masih menunduk sama sekali tidak melihat wajah saya. Akhirnya saya tinggalkan dia dan lanjut ke agenda selanjutnya.

Hingga kelas berakhir, Ega masih tak beringsut dari tempat duduknya. Namun saya lihat Ega sempat mengikuti gerakan anak-anak lain sewaktu menghafal quran beserta arti dengan metode gerakan tangan.

Murid-murid junior pun pulang, berganti dengan murid senior. Ega masih diam membisu di tempatnya. Sesekali saya melempar senyum ke Ega, dan Ega langsung salah tingkah dan kembali menunduk. Jam sudah menunjukkan pukul 20.10 WIB. Ega mulai gelisah.

“Ega sayang, capek? Mau pulang? Ega boleh pulang ya…Besok kalau mau mengaji, datang lagi saja. Insya Allah selepas Maghrib, kita sudah mulai”.

Ega menatap wajah saya sebentar, kemudian kembali menunduk. Saya yakin dia mendengar dan mengerti. Ega pun berdiri dan segera meninggalkan ruang tanpa berbicara apa-apa. Apalagi mengucap salam. Dan saya pun melongo.

Oke, sepertinya Ega akan jadi topik tulisan saya selanjutnya, setelah Adam bocah Amrik yang sudah pulang ke negaranya.

Dan kalau Ega jadi konsisten ngaji tiap petang. Maka ia menggenapi jumlah 20 murid.

Apakabar saya hari ini? Alhamdulillah saya tegar! Selain keluarga dan sahabat, ada 20 malaikat kecil yang menceriakan hidup saya.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak