Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Namanya Ega



Catatan harian ini bertanggal 6 September 2016:


Malam itu, seorang gadis kecil dengan down syndrome duduk manis di pojok ruang. Sesekali gadis itu membenahi kerudungnya. Tangan kanannya menggenggam erat buku kecil bertuliskan “Iqra”.

Matanya berganti-ganti mengamati saya yang sedang mengajar ngaji, menatap anak-anak lain yang sedang menghafal surat Ar Rahman, atau melirik balita yang sedang asyik mewarnai huruf Arab. Saya pun mencuri pandang ke gadis kecil itu. Sesekali, matanya menangkap basah saya yang asyik mencuri pandang kepadanya.

Setelah dua belas anak kelas junior mendapat giliran mengaji dengan saya atau asisten saya Najwa. Saya pun menegurnya.

“Hai cantik, sedang apa di situ? Boleh kenalan?” Gadis itu menunduk dan memeluk erat buku Iqra-nya.

Tidak ada jawaban, bahkan si gadis dengan wajah khas down syndrome itu semakin terlihat takut. Waduh, saya jadi khawatir telah salah langkah. Karena ini perjumpaan saya pertama dengan gadis seistimewa dia.

“Namanya Ega bu…” Najwa Asisten saya, gadis 11 tahun yang sudah Al Quran juz 4 menerangkan.

“Oh Ega…” Saya masih memandangi gadis kecil itu yang terlihat sekali menghindari tatapan saya.

“Ega sayang mau mengaji?” Tanya saya lagi lembut dengan bertabur senyum.

Ega malah semakin terlihat takut. Waduh, apa wajah saya terlihat seperti serigala. Saya jadi takut sendiri kalau dia kabur dan lari terbirit-birit.

Karena mengejar waktu. Kurang dari 15 menit lagi, kelas senior harus sudah masuk maka saya urung merayu Ega yang terlihat masih canggung untuk saya ajari mengaji.

“Kalau masih malu, Ega boleh duduk di situ sambil mengamati kami ya. Ega boleh ikut menghafal surat Ar Rahman kalau mau…”

Ega masih menunduk sama sekali tidak melihat wajah saya. Akhirnya saya tinggalkan dia dan lanjut ke agenda selanjutnya.

Hingga kelas berakhir, Ega masih tak beringsut dari tempat duduknya. Namun saya lihat Ega sempat mengikuti gerakan anak-anak lain sewaktu menghafal quran beserta arti dengan metode gerakan tangan.

Murid-murid junior pun pulang, berganti dengan murid senior. Ega masih diam membisu di tempatnya. Sesekali saya melempar senyum ke Ega, dan Ega langsung salah tingkah dan kembali menunduk. Jam sudah menunjukkan pukul 20.10 WIB. Ega mulai gelisah.

“Ega sayang, capek? Mau pulang? Ega boleh pulang ya…Besok kalau mau mengaji, datang lagi saja. Insya Allah selepas Maghrib, kita sudah mulai”.

Ega menatap wajah saya sebentar, kemudian kembali menunduk. Saya yakin dia mendengar dan mengerti. Ega pun berdiri dan segera meninggalkan ruang tanpa berbicara apa-apa. Apalagi mengucap salam. Dan saya pun melongo.

Oke, sepertinya Ega akan jadi topik tulisan saya selanjutnya, setelah Adam bocah Amrik yang sudah pulang ke negaranya.

Dan kalau Ega jadi konsisten ngaji tiap petang. Maka ia menggenapi jumlah 20 murid.

Apakabar saya hari ini? Alhamdulillah saya tegar! Selain keluarga dan sahabat, ada 20 malaikat kecil yang menceriakan hidup saya.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset