Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flashback: Mama Cahyo Lulus Iqra


Catatan harian bertanggal 2 November 2017:

"Jadi saya lulus Iqra bu?" Mata teduh milik wanita yang biasa saya panggil Mama Cahyo itu menatap saya dengan pandangan menyelidik.

Saya mengangguk pasti sambil tersenyum.

"Besok sudah bisa baca Al Quran?" Tanyanya lagi tak percaya.

"Iya bu!" Saya meyakinkannya.

"Alhamdulillah!" Serunya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena haru. Sambil memeluk Alika gadis kecil yang belum genap 2 tahun itu. Gadis kecil bermata jeli itu menatap bingung mamanya.

Tak terasa delapan bulan sudah saya mengajar mengaji Mama Cahyo. Saya masih ingat persis bagaimana dahulu Mama Cahyo datang untuk pertama kalinya ke rumah saya untuk belajar mengaji. Saat akhirnya dia mendapat giliran mengaji, dia tersenyum malu sambil berkata, "bu saya belum bisa ngaji..."

"Makanya ayok saya bantu ya bun..." Sahut saya kali itu.

"Saya bahkan lupa kapan terakhir kali mengeja hijaiyah. Sudah lama sekali. Dahulu waktu kecil di kampung...." curhatnya, saya pun mendengarkan dengan seksama.

Mama Cahyo pun memulai belajar mengenal huruf hijaiyah dari halaman pertama buku Iqra. Bukanlah hal yang mudah bagi Mama Cahyo untuk memulai belajar mengaji di usia yang tidak lagi muda.

Saya ingat persis bagaimana, dia harus mengulang taawudz dan basmallah lebih dari 5 kali saat memulai mengaji itupun kesalahan terus berulang hingga bulan-bulan pertama mengaji. Logat asal daerahnya memperburuk makhorijul huruf saat mengucap huruf hijaiyah. Yang terparah huruf فَ dibaca 'pa' bukan 'fa'.

Meski saya sering menyalahkannya. Namun dia tak gentar. Tidak lekas 'mutung' apalagi ngambek. Saban pagi, dia datang ke rumah saya untuk belajar mengaji, setelah sebelumnya bolak-balik mengantar si anak sulung bersekolah di SD yang berjarak hampir 2 kilo dari rumah sambil menggendong Alika.

Sampai rumah saya kadang dia tak bisa mengaji karena Alika sedang rewel. Maka dia pulang dengan 'tangan hampa' pasalnya Alika terlalu rewel untuk sekedar diam sejenak mendengarkan saya menyampaikan materi.

Sewaktu bulan Ramadhan, Mama Cahyo datang pagi buta selepas Subuh untuk belajar mengaji. Dia mengendong Alika yang masih tertidur sambil berjalan kaki menembus gelap.

Mama Cahyo memahami kekurangannya dalam menghafal. Makanya dia gigih mengulang hafalan quran. Tekadnya cuma satu, dia ingin punya hafalan surat yang banyak agar malaikat tak bosan mendengarkan bacaan surat 'qul-qul' yang itu-itu saja saat shalat wajib. Dan kini hafalannya Alhamdulillah sudah hampir setengah juz 30 lengkap dengan arti dan makhroj yang baik. Dan kini dia juga mulai menghafal hadits-hadits pendek yang shahih.

Dia pun selalu berusaha konsentrasi penuh mendengarkan penjelasan saya sambil mencatat. Walau dia kerepotan harus mencatat sambil memangku Alika.

Sebenarnya, Cahyo juga murid saya. Cahyo sudah lebih dahulu berada di level quran sejak lebih dari setahun lalu. Namun, sang mama baru memberanikan diri untuk belajar hampir 8 bulan lalu.

Selama hampir 8 bulan ini, saya belajar banyak dari sosok Mama Cahyo. Tak sekedar dari kegigihannya belajar mengaji, juga soal hidup.

Mama Cahyo hampir tak pernah absen kalau tidak sedang libur. Bahkan pernah suatu kali, saya yang malas mengajar karena sedang sedih dirundung masalah tiba-tiba langsung bergegas saat mendengar suara Mama Cahyo mengucap salam di bawah. Saya harus sembunyikan mata yang sembab selepas menangis semalaman. Karena saya tidak ingin mematahkan semangat Mama Cahyo yang ingin segera bisa membaca surat cinta dari Allah.

Ketika terkadang saya ingin lari saja meninggalkan Sukabakti. Saya ingat masih ada Mama Cahyo, bunda-bunda lain dan anak-anak yang saat ini masih menggantungkan harap pada saya.

Saya tidak tahu apa takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfuz untuk saya. Namun, kalau boleh saya tak perlu memadamkan api semangat mereka yang sedang belajar mencintai kitabnya.

Saya memang bukan orang yang sempurna. Saya hanya remah-remah rengginang yang tersisa di kaleng bekas Khong Guan. Hanya saja saya kebetulan difasilitasi Allah dengan takdir ini hingga saya susah untuk 'kabur' dari semangat belajar Quran dan Hadits. Tolong rangkul saya agar tak patah semangat meski badai datang silih berganti!

"Insya Allah, Jumat besok biar saya yang memasakkan nasi kuning dan lauk untuk makan malam anak-anak bu...", Mama Cahyo dengan mata berbinar-binar. Masya Allah, Tabarakallahu.

*ditulis dengan berlinang air mata*

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset