Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Kapan Aku Sekolah


Catatan harian bertanggal 21 November 2017:

Entah sudah berapa ribu kali, Sydney merengek minta sekolah. Sejak usia tiga tahun, ketika bocah-bocah sepantarannya satu persatu mulai menggendong tas mungil untuk pergi sekolah.

"I wanna go to school, mommy!"

"Nanti kalau sudah waktunya..."

Waktu usia 3-4 tahun saya masih bisa bilang, "Kamu masih terlalu kecil untuk sekolah. Takutnya bosen."
Lagipula bagi saya usia 3-4 tahun belum perlu lah sekolah. Toh dia tidak mengejar supaya lekas baca dan berhitung di usia dini.

Setelah langkah pertama di TK, masih ada belasan atau bahkan lebih 20 tahun sekolah kalau mau jadi profesor. Apa gak bosen kelamaan di sekolah?

Toh lagipula, Sydney punya mommy jebolan universitas bergengsi yang secara kasat mata 'nganggur'. Sydney bisa belajar apa saja dengan saya, kalau mau.

Dan yah kebetulan saya 'kutu buku' yang gemar mengkoleksi buku. Ketika punya anak, saya melengkapi koleksi buku anak terutama ensiklopedia. Alhasil saban hari, Sydney menagih minta dibacakan buku ensiklopedia atau buku cerita.

Tapi belakangan memang Sydney lebih suka dibacakan ensiklopedia dari soal tata surya, tumbuhan, hewan, manusia, bahkan revolusi Perancis. Dan nyebelinnya seperti kebanyakan bocah, satu bab yang menurut dia menarik minta dibaca berkali-kali.

Haduh! Kadang saya kurang sabar, banyak kerjaan rumah plus problematika hidup dan Sydney menagih kelanjutan bagaimana Mao Zedong akhirnya menanamkan komunis di Cina. Alamakjang....! Akhirnya saya yang cuma ngomel gak jelas, tapi dibacain juga.

Lain kali Sydney bertanya mengapa benda jatuh ke bawah? Saya ceritakan tentang gaya gravitasi. Lalu dia bertanya mengapa kecepatan tiap benda yang jatuh ke bawah berbeda. Maka saya jelaskan pakai percobaan ala hukum Newton.


Lain kali bertanya kenapa kalau pakai baju hitam di siang hari bolong terasa panas. Lalu kami buat percobaan kecil di luar saat siang bolong untuk membuktikan bagaimana warna dapat mempengaruhi kecepatan benda mengubah energi cahaya menjadi energi panas.

"Bagaimana seorang pilot menjawab kalau ditanya posisi ada dimana?" waduh! Maka saya kenalkan saja koordinat kartesius.

"Mengapa bentuk daun dan biji buah berbeda?" Maka saya kenalkan saja prinsip monokotil dan dikotil. Begitupun saya memperkenalkan animal kingdom, dari moluska, mamalia, burung, dan lain-lain.

Keinginan sekolah semakin menjadi-jadi sekarang. Hampir tiap jam dia minta disekolahin. Saya menjanjikan sekolah tahun depan. Selain karena saya masih 'mager' antar jemput sekolah, lagipula saya pikir Sydney tak perlu berlama-lama di TK. Dia akan bosan jika saya benar-benar mengirimnya sekolah TK A. Pasalnya, pengetahuan Sydney sudah melebihi kebanyakan anak seumurnya. Dan saya memang ingin menanamkan agama dulu sebelum dia memulai langkahnya di bangku sekolah.

"I wanna go to school..." Suatu hari Sydney sambil menangis.

"Mau ngapain di sekolah?" Tanya saya iseng.

"Ya belajarlah!"

"Loh selama ini kan sudah belajar sama mommy?"

"Tapi.... tapi..."

"Ya udah yuk sini, mommy kasih soal matematika. Nanti kamu isi ya. Pura-puranya kita di sekolah." Rayu saya.

Sydney yang masih sesenggukan pun menghapus air matanya. Dia antusias menanti saya kelar menulis soal matematika sederhana di papan tulis. Dia pun mengerjakan dengan riang gembira.

Masya Allah Tabarakallahu

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya