Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Kalkun Shalihah

Catatan harian bertanggal 6 September 2018:

Sudah beberapa minggu ini, si ayam kalkun betina, rajin menyambangi Rumah Quran Ar Rahman saban sore. Ibu dari satu anak kalkun yang ditinggal mati oleh suaminya itu memang salah satu santri di kelas ibu-ibu. Mungkin karena ia merasa sebagai ibu-ibu makanya pilih kelas ibu-ibu.
Mundur ke belakang, sebenarnya setahun lalu, saya dan keluarga kalkun sempat musuhan. Si bapak kalkun yang posesif suka sekali mengejar saya dan anak-anak yang tak sengaja melewati daerah kekuasaannya dimana si ibu dan anak sedang bercengkerama. Maka pemandangan orang teriak sambil berlari dikejar kalkun setahun lalu, itu sudah biasa.
Dan kemudian jelang Ramadhan, si bapak kalkun sakit. Sebelum meninggal, si empunya buru-buru menyembelih. Kemudian dagingnya dimasak kecap untuk hidangan istimewa di Rumah Quran Ar Rahman. Tentu saja saya tak tega memakannya.
Akhirnya si ibu kalkun dan anaknya, tinggal hanya berdua saja. Sebenarnya sejak Ramadhan, si ibu kalkun dan anaknya sudah mulai ikut menyelinap di kerumunan peserta hafalan Quran. Namun, sering diusir karena membuat heboh kelas.
Nah baru beberapa minggu belakangan, si ibu kalkun mulai rajin datang di kelas mengaji. Dia bisa duduk tenang sepanjang murojaah. Dia malu-malu duduk mendekati kami.
Saat ibu-ibu menunggu giliran memgaji, dia ikut menyimak. Lucunya bila semua telah kelar, dia mendekati saya seakan ingin juga ikut mengaji di hadapan saya.
"Kamu mau ngaji juga, ayo sini!"
Si ibu kalkun ragu-ragu berjalan perlahan mendekat, tentu saja kami tertawa terpingkal-pingkal.
Sayang, sebelum kelas usai biasanya si empunya kalkun sudah mulai menangkap kalkunnya untuk ditaruh di kandang. Sempat ada adegan kejar-kejaran, ibu kalkun yang masih ingin mengaji dan empunya kalkun yang gemas karena kalkunnya belum masuk kandang.
Dan kemarin, si ibu kalkun sengaja datang sepuluh menit sebelum kelas dimulai.
"Belum mulai, tar ya 10 menit lagi...", Lisda anak engkong Ali berkata. Dan ibu kalkun pun duduk dengan khidmat.
Kemarin, dia bisa ikut mengaji agak lebih lama sebelum empunya kalkun menjemput.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak