Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Jumat Penuh Berkah

Catatan harian bertanggal 13 April 2018:

Hari Jumat bagi kami adalah hari yang istimewa. Tak hanya karena ini adalah "lebaran kecil" kami kaum muslim, tetapi juga hari tersibuk dalam seminggu.
Kelas sepanjang siang ditiadakan. Karena sedari Subuh bahkan malam sebelumnya kami sudah sibuk memasak, mempersiapkan ratusan paket makan siang gratis untuk Jumat Berkah yang akan kami bagikan selepas Jumatan kepada Jamaah masjid dan orang-orang di jalan.
Kelar membagikan paket makan siang gratis. Giliran kami yang shalat dan makan siang di rumah saya. Selepas makan siang biasanya kami bersantai sejenak. Dan sore baru mulai masak lagi untuk makan malam selepas murojaah dan shalat Isya.
Dananya dari mana? Para santri belajar sedekah dengan menyisihkan sedikit uang jajan atau beras jumputan. Dikit dong? Iya dikit tapi Alhamdulillah kami sudah terampil mengolah dana yang sedikit jadi cukup, pastinya ada campur tangan Allah.
Menu pun tak selalu mewah. Sering juga tangan kami gatal-gatal karena sepanjang siang mencabuti daun singkong liar yang tumbuh di kebun orang, tentunya seizin si empunya kebun untuk menambah menu kami. Getah daun singkongnya luar biasa bikin gatal. Dan butuh hampir setengah truck pick up untuk dijadikan menu tambahan 100 orang.
Pernah juga kami makan malam hanya dengan nasi goreng ala kadarnya dengan kerupuk yang dibelah dua. Rasanya sedih.

Tapi saya tak jadi menangis malah tertawa kala Dinda salah seorang santri bilang, "ya gak apa ya mak. Alhamdulillah ini rezeki Allah. Kasihan emak kerja sendiri, besok pulang sekolah aye bantu emak bikin kue buat dijualin."
Lala tiba-tiba nimbrung, "Mak, Lala berhenti sekolah aja ya mak. Biar adek-adek aja yang sekolah. Lala mau bantu emak cari uang."
Hahahahah berasa masuk dalam salah satu adegan FTV tentang single mom yang punya banyak anak. Parah! Dan kami pun tertawa terpingkal-pingkal dan makanan sederhana pun tandas tak bersisa.
Kami juga sering kok makan sedikit mewah, seperti rendang daging atau menu ayam goreng. Biasanya itu ada titipan dari hamba Allah. Atau saya dapat honor hasil 'ngamen' memeras otak.
Kalau menu makan siang gratis sih Insya Allah memenuhi standar gizi karbohidrat, protein, lemak, serat. Belum lagi ditambah camilan, buah dan minuman. Tapi kalau lagi bokek berat, protein dan lemaknya nabati semua. ☺️
Dan malam ini selepas murojaah, kami belajar shalawat, dengan salah satu ustadz. Rasanya syahdu sekali shalawatan di bawah sinar rembulan dalam keadaan kenyang.
Jumat ini ditutup dengan setoran hafalan Shafira, gadis kecil yang belum genap 3 tahun. Meski belum sempurna, dia ternyata hafal luar kepala, lengkap dengan gerakan yang merupakan isyarat dari arti perkata. Masya Allah Tabarakallahu.
Jumat yang melelahkan namun seru. Alhamdulillah!

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya