Kesibukan Ramadhan Tahun Ini

Image
Masih lama dari deadline pendaftaran 1 Mei 2018. Tapi panitia sudah mulai sibuk, cetak-cetak yang perlu dicetak, video editing dan narasi sudah mulai digarap oleh tim ahli.  Karena Insya Allah, tahun ini BEDA. 
Hafalan tahun ini didukung dengan audio visual yang mumpuni untuk mempermudah proses hafalan ala metode Kauny ini. Insya Allah menggunakan 'fun theory' tapi tetap syar'i. 
Memang cuma 2 hari tapi 'full schedule'. Meski ada target hafalan, peserta juga akan mendapatkan materi lain untuk pemahaman surah Al Kahfi. Ada juga games untuk memudahkan proses hafalan dengan menggunakan flash card khusus, makanya workshop menghafal ini cocok dari anak-anak, sampai dewasa. 
Tim kami tak hanya digawangi oleh Majelis Al Kahfi, ibu-ibu yang sudah duluan menghafal Al kahfi, juga ada para profesional lulusan universitas dan pesantren ternama.
Kami sebetulnya hanya kumpulan orang fakir ilmu yang masih akan terus belajar sampai mati, sambil mentransfer sedikit ilmu kami. Kala…

Flashback: Jumat Berkah


Catatan harian ini bertanggal 21 Januari 2017:

Sudah hampir sebulanan ini, anak-anak yang saban hari belajar mengaji di rumah saya, belajar sedekah di hari Jumat berkah. Mereka mengumpulkan uang dari uang jajan mereka untuk dibelikan snack dan minuman gratis untuk jamaah sholat jumat di masjid terdekat.

Jumlahnya tak banyak memang. Karena itu murni sedekah anak-anak. Saya sengaja tak turut campur.

Setiap pulang dari masjid sambil menikmati makan siang, anak-anak dengan girangnya menceritakan kembali apa yang mereka alami selama membagikan snack dan minuman gratis untuk
Jamaah. Dan saya mendengarkan mereka dengan seksama.

Kali pertama mereka membagikan snack dan minuman gratis. Banyak jamaah yang tak berani ambil, takut disuruh bayar. Hingga anak-anak harus memaksa bapak-bapak yang akan meninggalkan masjid. Jumat berikutnya, jamaah masjd mulai familiar dengan bocah-bocah yang dengan tulus menawarkan snack dan minuman gratis. Bahkan ada seorang bapak yang menyelipkan beberapa lembar yang puluhan ribu di dalam boks tempat anak-anak biasa menaruh minuman. Dan uangnya digunakan untuk menambah sedekah di Jumat berikutnya. 

Hingga Jumat kemarin, anak-anak pulang ke rumah dengan wajah lesu. 

"Snack kita masih sisa ibu..." Ujar Shafiga, salah satu murid ngaji saya.

Saya tersenyum, "loh kenapa?"

"Kesel deh bu, tadi ada ibu-ibu turun dari mobil bawa nasi kotak buat jamaah masjid. Jadi kita kurang laku..." Bocah lain menimpali.

"Ah... Kan kita duluan yang bagi-bagi makanan, kok sekarang jadi ada yang lain?" Dengus bocah lain.

Saya tersenyum, "loh bagus dong, itu berarti kalian menginspirasi orang lain untuk bersedekah di hari Jumat berkah. Mereka juga mau mendapat pahala sedekah."

"Tapi kan sedekah dia banyak, kita cuma snack dan minuman", bocah lain ikut-ikutan.

"Pahala itu hak prerogatif Allah sayang. Kita sebagai manusia tidak bisa menilai pahala sedekah dari banyak sedikitnya sedekah yang kita kucurkan. Bisa saja sedekah dari si miskin yang cuma Rp 1000 lebih dilihat oleh Allah ketimbang sedekah si kaya yang ratusan juta tetapi ada maksud terselubung", saya menenangkan.

"Sedekah itu harus ikhlas tanpa embel-embel".

"Ya udah bu, Jumat depan kita bikin pudding dan es mambo yuk bu... Siang-siang kan enak bu...", si ceriwis Najwa. Semua ikut semangat.

"Ya sudah, yuk yang perempuan sholat dzuhur berjamaah dulu. Setelah itu kita makan siang..."

Kebetulan saya dibantu dengan beberapa bocah sudah menyiapkan makan siang bersama. 

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset