Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Jumat Berkah


Catatan harian ini bertanggal 21 Januari 2017:

Sudah hampir sebulanan ini, anak-anak yang saban hari belajar mengaji di rumah saya, belajar sedekah di hari Jumat berkah. Mereka mengumpulkan uang dari uang jajan mereka untuk dibelikan snack dan minuman gratis untuk jamaah sholat jumat di masjid terdekat.

Jumlahnya tak banyak memang. Karena itu murni sedekah anak-anak. Saya sengaja tak turut campur.

Setiap pulang dari masjid sambil menikmati makan siang, anak-anak dengan girangnya menceritakan kembali apa yang mereka alami selama membagikan snack dan minuman gratis untuk
Jamaah. Dan saya mendengarkan mereka dengan seksama.

Kali pertama mereka membagikan snack dan minuman gratis. Banyak jamaah yang tak berani ambil, takut disuruh bayar. Hingga anak-anak harus memaksa bapak-bapak yang akan meninggalkan masjid. Jumat berikutnya, jamaah masjd mulai familiar dengan bocah-bocah yang dengan tulus menawarkan snack dan minuman gratis. Bahkan ada seorang bapak yang menyelipkan beberapa lembar yang puluhan ribu di dalam boks tempat anak-anak biasa menaruh minuman. Dan uangnya digunakan untuk menambah sedekah di Jumat berikutnya. 

Hingga Jumat kemarin, anak-anak pulang ke rumah dengan wajah lesu. 

"Snack kita masih sisa ibu..." Ujar Shafiga, salah satu murid ngaji saya.

Saya tersenyum, "loh kenapa?"

"Kesel deh bu, tadi ada ibu-ibu turun dari mobil bawa nasi kotak buat jamaah masjid. Jadi kita kurang laku..." Bocah lain menimpali.

"Ah... Kan kita duluan yang bagi-bagi makanan, kok sekarang jadi ada yang lain?" Dengus bocah lain.

Saya tersenyum, "loh bagus dong, itu berarti kalian menginspirasi orang lain untuk bersedekah di hari Jumat berkah. Mereka juga mau mendapat pahala sedekah."

"Tapi kan sedekah dia banyak, kita cuma snack dan minuman", bocah lain ikut-ikutan.

"Pahala itu hak prerogatif Allah sayang. Kita sebagai manusia tidak bisa menilai pahala sedekah dari banyak sedikitnya sedekah yang kita kucurkan. Bisa saja sedekah dari si miskin yang cuma Rp 1000 lebih dilihat oleh Allah ketimbang sedekah si kaya yang ratusan juta tetapi ada maksud terselubung", saya menenangkan.

"Sedekah itu harus ikhlas tanpa embel-embel".

"Ya udah bu, Jumat depan kita bikin pudding dan es mambo yuk bu... Siang-siang kan enak bu...", si ceriwis Najwa. Semua ikut semangat.

"Ya sudah, yuk yang perempuan sholat dzuhur berjamaah dulu. Setelah itu kita makan siang..."

Kebetulan saya dibantu dengan beberapa bocah sudah menyiapkan makan siang bersama. 

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya