Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Jumat Berkah Makan Enak


Catatan harian bertanggal 26 Februari 2017:


Gadis kecil bermata jeli itu mengunyah perlahan isi makanan yang hampir habis di piring ketiganya. Perutnya sepertinya sudah penuh tetapi dia memaksa diri mengunyah habis makanan yang mungkin tidak akan ditemuinya di rumah sampai kapanpun.

"Makanan apa ini bu?" Mata Cindy berkerjap-kerjap sambil sibuk mengunyah.

"Itu fettucine..." Jawab saya.

"fettu... Fettu apa?" Tanyanya sambil mendelik.

"fettucine... Tulisannya F E T T U C I N E..." Eja saya.

"Ohhh susah..." Cindy meringis geli.

"Mirip spaghetti ya bu..."

"Iya sama-sama pasta hanya saja ukurannya agak lebar... cindy suka?"

"Suka bu... Saya pernah makan spaghetti yang dijual di abang-abang pasar malam. Hanya mie spaghetti dengan sedikit saus dan sedikit keju.... Ini beda.... Ngeju banget... Sausnya enak, dagingnya banyak....", cindy bersemangat sambil sesekali menjilati piringnya.

"Kalo di rumah biasanya mamah masak apa?" Tanya saya.

"Jarang masak... Mamah kan pembantu di komplek sebelah, kalau majikan mamah masak, mamah biasanya bawa pulang sebagian. Tapi tidak banyak. Aku sering di rumah makan nasi dengan garam sambil menunggu mamah pulang..."

Saya terenyuh mendengarnya. Itu yang membuat saya rutin memasak untuk anak-anak terutama di hari Jumat. Biar paling tidak Cindy dan teman-temannya yang jarang makan enak bisa sesekali "berpesta" di hari Jumat berkah. 

Makanan apa saja biasanya ludes. Namun makanan ala Barat yang biasanya yang paling dinanti. Katanya kapan lagi bisa makan yang aneh-aneh kayak di TV.

"Lain kali ibu bikinkan lagi ya?"

"Asyik..." cindy dan beberapa temannya ikut riang.

"Atau lain kali kita jalan-jalan ke mall untuk makan." 

"Serius bu?!?" Tanya Cindy dan beberapa anak tak percaya.

"Iya Insya Allah... Kalau ibu ada rezeki kita makan es krim di sana..." 

"Horeee...."

"Makan pizza juga bu?" Tanya salah satu dari mereka.

"Boleh Insya Allah ya nak..."

"Ih aku belum pernah ke Bintaro Exchange", sahut salah seorang anak.

Padahal Bintaro exchange jaraknya dekat sekali dari rumah saya. Tapi mereka belum pernah.

"Kamu belum pernah?" Saya heran.

"Iya...kata ibu sama bapak saya. Di sana mall-nya orang kaya. Semuanya mahal-mahal. Gak mampu. Kalau liat aja takut diusir nanti. Kelas kita mah di Ramayana aja", jawabnya polos. Ya Allah nak!

Satu dua anak yang sudah sering ke mall dan makan enak menyahut. "Yahhh aku mah sering... Enak tahu di sana".

"Sayang, tidak semua orang bernasib seberuntung kita pernah ke mall dan makan pizza. Bersyukur ya nak...."



Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya