Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Imam



Catatan harian bertanggal 3 Februari 2017:


Sudah beberapa bulan ini Sydney, bocah 4 tahun getol menghafal Quran. Tujuannya cuma satu, dia ingin jadi imam shalat. 

Bagi dia, pemimpin shalat adalah tugas terkeren. Berdiri di depan barisan orang shalat yang berdiri teratur. Semua orang harus ikut instruksi sang imam tanpa terkecuali tua muda, laki-laki dan perempuan.

Sebelumnya dia sudah tahu kalau laki-laki adalah imam. Perempuan hanya bisa jadi imam untuk makmum perempuan. 

Syarat jadi imam tidak perlu harus sudah tua. Kalau yang muda ada yang sudah 'mumpuni', hafalan Al Quran banyak dan punya ilmu, boleh jadi imam. Tetapi sepertinya Sydney tidak dengar kalau syarat jadi imam lainnya adalah harus sudah baligh, kecuali kalau jamaahnya sama-sama belum baligh.

Di rumah, saya sering jadi imam untuk anak-anak perempuan yang kebetulan mengaji di rumah. Sedang anak-anak laki-laki saya suruh shalat di masjid. 

Saat hendak shalat, Sydney dengan kopiah dan baju koko sudah berancang-ancang berdiri di sajadah terdepan. "Ayo luruskan shafnya!" Dengan muka serius.

Bah!!! Saya dan murid-murid bengong berpandang-pandangan. 

"Loh kenapa? Aku kan satu-satunya laki-laki di sini. Masa aku yang jadi makmum mommy?", Sydney.

"Laki-laki harusnya di masjid seperti daddy dan kakak-kakak cowok lainnya", jawab saya.

"Iya tapi kan aku lagi di rumah".

"Iya tapi kamu belum boleh jadi imam!" Kata saya.

"Loh kenapa? Hafalan quranku sudah banyak. Bahkan lebih banyak dari om dan yangkung", sudah mulai ngambek nih.

Iya sih hafalan Sydney Alhamdulillah sudah banyak, surat-surat panjang di juz 27 dan 29 sudah hafal sebagian. 

"Tapi kamu belum baligh?"

"Baligh itu apa?" sydney balik bertanya. Waduh saya bingung menjelaskannya.

"Sunat... Kamu belum sunat kan?" Saya tidak tahu jawaban lain untuk bocah 4 tahun.

Dan sydney menangis meraung-raung sampai shalat usai karena dia gagal jadi imam. 

Lain kesempatan dia langsung ancang-ancang jadi imam, berdiri sendiri di shaf terdepan. Karena saya hanya berenam dengan murid perempuan. Saya bisa berdiri sejajar dengan jamaah, dan Sydney tetap di depan berlagak seperti imam hingga shalat usai. 

Kelar shalat, semua murid perempuan buru-buru menyalami saya. Dan Sydney berang, "loh kok salaminnya ke mommy, kan imamnya saya".

Kami sejenak berpandangan, jadilah saya kasih kode ke murid-murid untuk menyalami sang imam kecil. Dan sydney berasa jumawa sekali, keinginannya jadi imam tercapai. Padahal, saya dan murid-murid berjamaah sendiri.

Alhamdulillah hingga detik ini, Sydney dan mommy-nya masih semangat menghafal Quran. Doakan semoga cita-cita Sydney menjadi imam Masjidil Haram tercapai. Sydney ingin mempersembahkan mahkota kebanggaan para penghafal Quran di Surga untuk mommy-nya. Masya Allah Tabarakallahu.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya