Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Flashback: Guruku Muridku

Catatan harian bertanggal 26 Mei 2018:

Suatu pagi, pandangan mataku tertumbuk pada seorang perempuan hampir setengah baya, berkaca-mata dan berhijab lebar. Perempuan itu memejamkan mata, tangannya sibuk bergerak-gerak, mulutnya merapal ayat demi ayat yang baru saja saya sampaikan. Entah mengapa mata saya tak mau beralih padanya. Dia tampak familiar, tapi sungguh saya lupa dimana saya pernah jumpa padanya. Sepanjang sesi murojaah, saya terus memperhatikannya.
Mata teduhnya yang terhalang kacamata minus menatap saya penuh seksama dari kejauhan. Ia begitu tekun mendengar penjelasan saya.
Setelah kelas usai, saya pun tak bisa menahan diri untuk bertanya kepada bagian pendaftaran, siapakah perempuan itu? Rumahnya dimana?
Bu Eko menjawab, namanya Ibu Evi Syafriati, dia guru, tinggal di Pamulang. Seketika itu ingatan saya melayang jauh mundur bertahun-tahun lalu, saat saya masih gadis ingusan di bangku SMP.
Ada seorang guru perempuan berkacamata, berhijab lebar yang mengajar biologi di SMPN 87 Pondok Pinang. Namanya Evi Syafriati. Saat itu, dia mungkin satu-satunya guru berhijab syar'i. Dan dia bahkan satu-satunya perempuan berhijab syar'i yang pernah saya kenal saat itu.
Diam-diam saya mengaguminya. Bukan hanya karena kepandaian dalam mengajar, tetapi juga bagaimana cara dia bersikap. Saya yakin, kala itu dia baru saja lulus kuliah. Gadis muda yang memilih menjaga kehormatan dengan berhijab syar'i, kala hijab masih dianggap sebelah mata.
Saya pun sempat menghadiri pernikahannya. Pernikahan syar'i pertama yang saya hadiri kala itu. Tidak glamour, ada pembatas antara tamu laki-laki dan perempuan. Sederhana tapi khidmat.
Sayapun mencari nomer hape ibu Evi yang ternyata rumahnya cukup jauh dari kampung Sukabakti, di whatsapp group santri Sukabakti Menghafal. Gotcha! Saya pun memberanikan diri untuk memulai percakapan untuk mencari tahu apakah dia guru biologi saya waktu di SMP.
Dan ternyata BENAR!
Kelas berikutnya saya menyempatkan diri untuk berbincang dan berfoto berdua.
Takdir Allah. Berpisah sekian lama tak saling tahu keberadaan masing-masing. Akhirnya dipertemukan kembali di majelis ilmu. Cuma kali ini kami bertukar posisi, saya yang jadi gurunya dan beliau jadi
muridnya.

Masya Allah Tabarakallahu.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset