Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Detektif Partikelir


Catatan harian ini bertanggal 22 November 2016:

Hari ini seorang teman lama menghubungi saya. Setelah berbasa-basi dia langsung menembak saya, "Ris, skill detektif lo masih kan?"

Langsung saja saya tertawa terbahak-bahak. "Kenapa lagi loh?" 

Dia pun tersenyum lebar sebelum menerangkan duduk persoalannya. 

Entah sejak kapan, teman-teman dekat saya suka bertanya hal-hal 'njelimet'. Dari mencari keberadaan mantan pacar, mencari tahu pelaku penelpon atau pengirim email teror, mencari tahu nomer telepon orang yang tidak ada di yellow pages, menyelidiki latar belakang seseorang sampai membuat gambaran pasar sebuah industri. 

Yang jelas kemampuan detektif saya makin terasah ketika saya menjadi bagian dari sebuah tim marketing inteligent di sebuah perusahaan bergengsi. Bos saya yang orang Belanda pernah menugaskan saya membuat laporan soal industri batubara. Maka saya dengan berbagai cara berupaya menyelesaikannya.

Hasilnya, saya sukses memetakan dari seluruh potensi batubara yang ada di Indonesia, termasuk cadangan yang belum dilirik. Potensi pasar batubara dalam dan luar negeri. Trucking dan shipment batubara dari tambang hingga ke pabrik pengguna bahan bakar batubara atau industri rumahan. Komplit...hingga sang bos terbelalak dan dia sukses disayang big boss. 

Bahkan sampai kita sudah tidak sekantor, si mantan bos sering menghubungi saya untuk meminta data-data aneh. Saya pun menawarkan dua opsi, data yang standar apa lumayan rahasia? Kalau rahasia ya saya mesti 'nyolong'. Hahahah ya dahulu saya bagian dari komplotan hacker yang suka iseng masuk hanya untuk cari data.

Ada juga salah satu klien korban gagal 'move on' yang ingin mencari tahu keberadaan si mantan. Aih, itu facebook sudah diprotect pun saya bisa intip. Saya bisa mendapatkan info siapa pacar barunya, gebetannya, sahabatnya, bosnya, dll. Dia suka makan dimana, pergi sama siapa juga saya tahu. 

Kali lain giliran saya yang dikerjai sama orang iseng. Semua email dan akun medsos saya diretas. Saya pun marah semarah-marahnya. Saya lacak keberadaan sang pelaku yang ternyata karyawan dari sebuah perusahaan finansial terkemuka yang berkedudukan di Eropa. Dan saya kirimi para bos perusahaan itu diseluruh dunia tentang bukti peretasan yang dilakukan anak buahnya. Saya bilang, "bagaimana mungkin sebuah perusahaan finansial terkemuka di dunia yang terkenal paling aman, mengobrak-abrik email dan akun medsos orang biasa yang bukan karyawan, nasabah, atau mitra perusahaan itu. Bukan tak mungkin akun nasabah juga diretas".

Perusahaan itu gempar. CEO-nya sendiri yang minta maaf dan mohon saya tidak membocorkan hingga kasus ini tuntas. Akhirnya sih pelaku dipecat tidak hormat dan di black list.

Teman saya bilang, "kamu cocok jadi detektif partikelir atau agen rahasia".

Sempat terpikir sih melamar jadi agen rahasia. Bahkan saya pernah ikut wawancara calon agen rahasia di Indonesia. 

Jadi agen rahasia ini memang merekrut para talent dari beragam latar belakang, ada yang memang polisi/TNI, marketing intelligent, orang hukum, IT, dll. 

Mereka menawarkan layanan marketing intelligent untuk memata-matai kompetitor bisnis atau melihat potensi pasar. Ada juga jasa stalker suami/istri untuk sidang perceraian, karena data asset atau adanya selingkuhan bisa jadi bukti di pengadilan. Ada juga jasa untuk melihat kandidat eksekutif di sebuah perusahaan. Jasa mengintai debitor nakal yang bikin kredit macet. Bahkan mungkin ada juga jasa 'sniper'.

Agen rahasia ini juga mirip seperti di film-film. Kebanyakan masih punya pekerjaan sampingan untuk alibi.

Pertanyaan pertama interviewer kepada saya saat itu adalah, "mengapa kamu tertarik jadi agen".

Saya ceritain saja dari A sampai Z bahwa saya tipe orang yang pantang menyerah bla bla bla. Pewawancara manggut-manggut seperti tertarik mendengar jawaban-jawaban saya. Tetapi akhirnya saya sendiri yang mengundurkan diri sebelum tes berikutnya.

Kesimpulannya saya belum siap jadi James Bond! 

Untung saya tidak pernah ambil kesempatan itu. Kalau iya, mungkin sampai sekarang saya belum punya Sydney karena saya terlalu sibuk mengintai orang.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya