Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Cari Perhatian


Catatan harian bertanggal 15 Juli 2017:

Semakin ke sini saya merasa, hubungan saya dengan anak-anak tidak seperti hubungan antara guru ngaji dan santrinya. Ada ikatan emosional di sana.
Terkadang saya ikut 'baper' kalau salah seorang dari mereka tidak terlihat batang hidungnya. Saya biasanya akan cari tahu.
Rupanya rasa itu juga ada dalam hati mereka. Laki-laki perempuan mereka sama-sama berusaha merebut hati saya dengan cara mereka masing-masing.
Ada yang rajin sekali datang ke rumah sampai saya harus mengusir halus karena saya harus mengerjakan sesuatu atau sekedar 'me time'. Ada juga yang selalu datang ngaji duluan dan pulang belakangan hanya untuk memastikan basecamp kami bersih. Ada yang rajin setoran hapalan, padahal belum waktunya.
Ada yang selalu 'happy' membuat saya nyaman. Jadi ingat waktu bazar pasar murah tempo hari. Siang bolong yang terik di bulan puasa, saya kok malah merasa 'adem'. Padahal saya berjalan ke sana kemari untuk memastikan bazar berjalan aman. Saya baru sadar hampir setengah jam kemudian kalau ternyata ada santri yang gigih sekali memayungi saya. Ya Allah saya kok tidak 'ngeh', saya pikir itu rezeki anak soleh hahahahah.
Sewaktu sadar ada santri yang memayungi saya padahal keringatnya bercucuran saya jadi malah merasa bersalah. "Ya Allah, kamu toh yang mayungin. Kirain emang gak terik. Udah deh sana kamu masuk tenda, istirahat saya gak usah dipayungin."
Santri itu tersenyum, "gak mam aku senang kok..."
Lain kali ada sekelompok santri yang ngambek karena mereka merasa dianak-tirikan. Selalu telat tahu kalau santri lain sedang main di rumah saya. Padahal saya tidak pernah mengundang secara khusus, mereka datang sendiri.
Ada juga yang hampir setiap saat mengirim pesan ke saya, "Mam lagi apa?"
"Bu lagi apa?"
"Mam boleh main gak?"
Ada juga yang kalau datang ke rumah selalu bawa oleh-oleh alakadarnya. Dari buah seri (cherry liar yang sering dibilang makanan ular), cilok bahkan pensil sebatang.
Ada juga yang tetiba mengidolakan saya. Mereka mengikuti bagaimana saya berpenampilan. Tak hanya kacamata, cara berhijab bahkan sandal jepit pun hendak ditiru.
Bisa dibayangkan paniknya Sydney berebut perhatian saya dengan puluhan bocah lain. Ya kadang Sydney yang kesal ikut mencubit, menjambak bocah yang kebangetan 'caper' dengan saya.
foto kiriman sahabat, ini ceritanya momen 'battle' hapalan grup emak-emak dengan anak-anak.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak