Kesibukan Ramadhan Tahun Ini

Image
Masih lama dari deadline pendaftaran 1 Mei 2018. Tapi panitia sudah mulai sibuk, cetak-cetak yang perlu dicetak, video editing dan narasi sudah mulai digarap oleh tim ahli.  Karena Insya Allah, tahun ini BEDA. 
Hafalan tahun ini didukung dengan audio visual yang mumpuni untuk mempermudah proses hafalan ala metode Kauny ini. Insya Allah menggunakan 'fun theory' tapi tetap syar'i. 
Memang cuma 2 hari tapi 'full schedule'. Meski ada target hafalan, peserta juga akan mendapatkan materi lain untuk pemahaman surah Al Kahfi. Ada juga games untuk memudahkan proses hafalan dengan menggunakan flash card khusus, makanya workshop menghafal ini cocok dari anak-anak, sampai dewasa. 
Tim kami tak hanya digawangi oleh Majelis Al Kahfi, ibu-ibu yang sudah duluan menghafal Al kahfi, juga ada para profesional lulusan universitas dan pesantren ternama.
Kami sebetulnya hanya kumpulan orang fakir ilmu yang masih akan terus belajar sampai mati, sambil mentransfer sedikit ilmu kami. Kala…

Flashback: Cari Perhatian


Catatan harian bertanggal 15 Juli 2017:

Semakin ke sini saya merasa, hubungan saya dengan anak-anak tidak seperti hubungan antara guru ngaji dan santrinya. Ada ikatan emosional di sana.
Terkadang saya ikut 'baper' kalau salah seorang dari mereka tidak terlihat batang hidungnya. Saya biasanya akan cari tahu.
Rupanya rasa itu juga ada dalam hati mereka. Laki-laki perempuan mereka sama-sama berusaha merebut hati saya dengan cara mereka masing-masing.
Ada yang rajin sekali datang ke rumah sampai saya harus mengusir halus karena saya harus mengerjakan sesuatu atau sekedar 'me time'. Ada juga yang selalu datang ngaji duluan dan pulang belakangan hanya untuk memastikan basecamp kami bersih. Ada yang rajin setoran hapalan, padahal belum waktunya.
Ada yang selalu 'happy' membuat saya nyaman. Jadi ingat waktu bazar pasar murah tempo hari. Siang bolong yang terik di bulan puasa, saya kok malah merasa 'adem'. Padahal saya berjalan ke sana kemari untuk memastikan bazar berjalan aman. Saya baru sadar hampir setengah jam kemudian kalau ternyata ada santri yang gigih sekali memayungi saya. Ya Allah saya kok tidak 'ngeh', saya pikir itu rezeki anak soleh hahahahah.
Sewaktu sadar ada santri yang memayungi saya padahal keringatnya bercucuran saya jadi malah merasa bersalah. "Ya Allah, kamu toh yang mayungin. Kirain emang gak terik. Udah deh sana kamu masuk tenda, istirahat saya gak usah dipayungin."
Santri itu tersenyum, "gak mam aku senang kok..."
Lain kali ada sekelompok santri yang ngambek karena mereka merasa dianak-tirikan. Selalu telat tahu kalau santri lain sedang main di rumah saya. Padahal saya tidak pernah mengundang secara khusus, mereka datang sendiri.
Ada juga yang hampir setiap saat mengirim pesan ke saya, "Mam lagi apa?"
"Bu lagi apa?"
"Mam boleh main gak?"
Ada juga yang kalau datang ke rumah selalu bawa oleh-oleh alakadarnya. Dari buah seri (cherry liar yang sering dibilang makanan ular), cilok bahkan pensil sebatang.
Ada juga yang tetiba mengidolakan saya. Mereka mengikuti bagaimana saya berpenampilan. Tak hanya kacamata, cara berhijab bahkan sandal jepit pun hendak ditiru.
Bisa dibayangkan paniknya Sydney berebut perhatian saya dengan puluhan bocah lain. Ya kadang Sydney yang kesal ikut mencubit, menjambak bocah yang kebangetan 'caper' dengan saya.
foto kiriman sahabat, ini ceritanya momen 'battle' hapalan grup emak-emak dengan anak-anak.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset