Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Flashback: Capung Untuk Ibu


Catatan harian bertanggal 22 Agustus 2017:

"Are you happy?", tanya saya pada dua remaja tanggung selepas makan siang yang telat.
"yes", Bayu sambil tersenyum malu. Shafiga mengangguk pasti.
Ya kali itu memang saya sengaja mengajak dua santri 'hang out' sebagai reward karena keduanya memukau saya dengan tulisan tentang isi surat An Naziat dalam gaya bahasa mereka. Tentu saja mereka girang mendapat giliran jalan-jalan dengan saya dan Sydney.
Hampir saja rencana jalan kami gagal karena Bayu cedera kaki. Tapi kami berangkat juga dengan kakinya yang agak pincang.
Kami menghabiskan waktu sepanjang hari dengan makan es krim, belanja sayur, menonton film Cars 3 dan makan siang. Kami bercerita tentang banyak hal. Tak lupa saya menyelipkan wejangan untuk anak-anak. Kami bersenang-senang hingga pulang.
Malam harinya, Bayu mengirim pesan di whatsapp, "Terima kasih bu..."
saya jawab, "sama-sama".
"Apakah kalau saya kembali memenuhi kriteria, saya bisa jalan lagi bareng ibu?"
"tergantung..."
"tergantung apa?"
"tergantung mood saya..."
"bu..." Bayu lagi.
"iya..."
"Apa yang bisa saya lakukan untuk ibu?"
"untuk apa?"
"untuk membalas kebaikan ibu..."
Saya jengah dia berkata seperti itu, tapi akhirnya saya meminta asal, "do u know dragonfly?"
"yes... capung....kenapa?" tanya dia keheranan.
"Boleh tangkapkan capung untuk Sydney? Dia belum pernah lihat capung selain di buku dan di Youtube"
"Ok..." jawabnya.
Keesokan harinya dengan malu-malu Bayu mendekati saya, "Bu saya hampir memberikan ibu capung, tapi gagal.Capung itu keburu mati sebelum saya bawa ke sini?"
Saya pun tertawa cekikikan, "Ya ampun.... Capung.... its ok... lain kali saja". Saya sendiri lupa dengan request gila itu.
Lain kali dia mengirim pesan, "Saya membaca banyak tentang ibu di google".
Saya hanya membalas dengan emoticon senyum.
"Kenapa ibu tidak memilih Ramzi?" tanyanya tiba-tiba hingga membuat saya keselek.
Saya jawab kalem, "jodoh".
"Masa hanya jodoh?" tanyanya penasaran.
"Siapa yang bisa menolak suratan takdir..." jawab saya ambigu.
"Kisah hidup ibu menyedihkan tapi penuh makna", pernyataannya barusan membuat saya keselek untuk kesekian kali.
"Sotoy kamu!"
"Jadi apa masih ada lain kali untuk capungnya? Saya akan carikan capung terbaik yang pernah ada..." Bayu berusaha menetralisir suasana.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset