Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Capung Untuk Ibu


Catatan harian bertanggal 22 Agustus 2017:

"Are you happy?", tanya saya pada dua remaja tanggung selepas makan siang yang telat.
"yes", Bayu sambil tersenyum malu. Shafiga mengangguk pasti.
Ya kali itu memang saya sengaja mengajak dua santri 'hang out' sebagai reward karena keduanya memukau saya dengan tulisan tentang isi surat An Naziat dalam gaya bahasa mereka. Tentu saja mereka girang mendapat giliran jalan-jalan dengan saya dan Sydney.
Hampir saja rencana jalan kami gagal karena Bayu cedera kaki. Tapi kami berangkat juga dengan kakinya yang agak pincang.
Kami menghabiskan waktu sepanjang hari dengan makan es krim, belanja sayur, menonton film Cars 3 dan makan siang. Kami bercerita tentang banyak hal. Tak lupa saya menyelipkan wejangan untuk anak-anak. Kami bersenang-senang hingga pulang.
Malam harinya, Bayu mengirim pesan di whatsapp, "Terima kasih bu..."
saya jawab, "sama-sama".
"Apakah kalau saya kembali memenuhi kriteria, saya bisa jalan lagi bareng ibu?"
"tergantung..."
"tergantung apa?"
"tergantung mood saya..."
"bu..." Bayu lagi.
"iya..."
"Apa yang bisa saya lakukan untuk ibu?"
"untuk apa?"
"untuk membalas kebaikan ibu..."
Saya jengah dia berkata seperti itu, tapi akhirnya saya meminta asal, "do u know dragonfly?"
"yes... capung....kenapa?" tanya dia keheranan.
"Boleh tangkapkan capung untuk Sydney? Dia belum pernah lihat capung selain di buku dan di Youtube"
"Ok..." jawabnya.
Keesokan harinya dengan malu-malu Bayu mendekati saya, "Bu saya hampir memberikan ibu capung, tapi gagal.Capung itu keburu mati sebelum saya bawa ke sini?"
Saya pun tertawa cekikikan, "Ya ampun.... Capung.... its ok... lain kali saja". Saya sendiri lupa dengan request gila itu.
Lain kali dia mengirim pesan, "Saya membaca banyak tentang ibu di google".
Saya hanya membalas dengan emoticon senyum.
"Kenapa ibu tidak memilih Ramzi?" tanyanya tiba-tiba hingga membuat saya keselek.
Saya jawab kalem, "jodoh".
"Masa hanya jodoh?" tanyanya penasaran.
"Siapa yang bisa menolak suratan takdir..." jawab saya ambigu.
"Kisah hidup ibu menyedihkan tapi penuh makna", pernyataannya barusan membuat saya keselek untuk kesekian kali.
"Sotoy kamu!"
"Jadi apa masih ada lain kali untuk capungnya? Saya akan carikan capung terbaik yang pernah ada..." Bayu berusaha menetralisir suasana.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak