Lelaki Dayuts

Image
ثَلاَثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَالْعَاقُّ وَالْدَّيُّوثُ الَّذِى يُقِرُّ فِى أَهْلِهِ الْخُبْثَ “Ada tiga orang yang Allah haramkan masuk surga yaitu: pecandu khamar, orang yang durhaka pada orang tua, dan orang yang tidak memiliki sifat cemburu yang menyetujui perkara keji pada keluarganya (dayuts).” (HR. Ahmad 2: 69. Hadits ini shahih dilihat dari jalur lain) Lalu siapakah lelaki Dayuts itu? Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu tetap menganggap baik pada keluarganya (padahal ada kemungkaran yang nyata -pen), kita berlindung kepada Allâh dari hal itu. [Al-Kabâ-ir, hlm. 137] Imam Ibnul Manzhûr berkata, “Dayûts adalah orang yang tidak cemburu kepada keluarganya”. [Lisânul ‘Arab, 4/456] Sedang Imam ‘Ali al-Qâri rahimahullah berkata, “Dayûts adalah orang yang membenarkan keburukan pada keluarganya, yaitu dengan mendiamkannya. Yang masuk dalam ketagoeri keluarganya yaitu istriny…

Flashback: Buka Bersama

Catatan harian bertanggal 26 Mei 2018:

"Saya mau sepanjang Ramadhan, kita buka puasa bersama di sini." Ujar saya suatu kali sebulan sebelum Ramadhan.
"Dananya darimana?" Lisda anak Engkong Ali sampai tersedak.
"Peserta kelas sore lebih dari seratus belum termasuk kru..."
"Jangan khawatir, Allah Maha Kaya. Allah yang atur..." Saya tersenyum optimis.
Dengan sedikit uang yang kami punya, beberapa hari jelang Ramadhan kami sudah memasuk-masukkan uang belanja harian buka bersama ke dalam amplop per hari. Jumlah tak banyak.
Ketika saya memberikan kepada Ibu Mia, seksi konsumsi. Ia menghela nafas berat. Bingung bagaimana mengatur uangnya.
Saya tersenyum melegakan, "Dicukup-cukupkan. Insya Allah cukup!"
Dan yah... tentu saja budget 200ribu untuk seratus orang tidak cukup, maka amplop jatah 3 hari menjadi satu hari.
Lisda yang galau pun lapor, "amplop menipis, karena naik terus ke atas..."
Saya sempat ketar-ketir, dan Alhamdulillah, sebelum jatah buka puasa sebulan habis. Allah mengirimkan para donatur untuk santapan buka bersama kita.
Dari ibu-ibu solehah yang mengirim es, gorengan, bahkan berkardus-kardus air mineral. Ada juga sodagar buah asli kampung Sukabakti, engkong Dulamit yang senang sekali mengirimkan bertandan-tandan pisang, kelapa muda atau timun suri hasil panenan untuk kami.
Dan yang paling mengejutkan adalah kiriman Pizza dari salah seorang motivator yang dulu sempat kami undang di pembukaan Sukabakti Menghafal.
Pasalnya sehari sebelumnya ada santri kami sempat berkelakar saat mencaplok menu arem-arem dan bakwan yang hampir setiap hari terhidang. "Anggap aja ini pizza ya..."
Saya tersenyum kecut. Dalam hati saya berkata, "tuh... ada yang pengen pizza ya Allah."
Dan Allah langsung menjawab keesokan harinya, Allah kirim hamba-Nya untuk mentraktir kami pizza. Alhamdulillah....
Dan seperti jumat-jumat lainnya di hari biasa. Tradisi makan nasi liwet di atas daun pisang menjadi salah favorit santri tetap Rumah Quran Ar Rahman. Santri baru pun ikut merasakan keriangan yang sama. Mungkin bagi mereka itu bakal jadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan.
Dan tentu saja makan-makan tak pernah ada tanpa kerja keras para santri ibu-ibu yang setiap hari memutar otak bagaimana caranya memberi makan banyak santri dengan dana terbatas. Heheheh berasa di pesantren jadinya.

Comments

Popular posts from this blog

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019