Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Buka Bersama

Catatan harian bertanggal 26 Mei 2018:

"Saya mau sepanjang Ramadhan, kita buka puasa bersama di sini." Ujar saya suatu kali sebulan sebelum Ramadhan.
"Dananya darimana?" Lisda anak Engkong Ali sampai tersedak.
"Peserta kelas sore lebih dari seratus belum termasuk kru..."
"Jangan khawatir, Allah Maha Kaya. Allah yang atur..." Saya tersenyum optimis.
Dengan sedikit uang yang kami punya, beberapa hari jelang Ramadhan kami sudah memasuk-masukkan uang belanja harian buka bersama ke dalam amplop per hari. Jumlah tak banyak.
Ketika saya memberikan kepada Ibu Mia, seksi konsumsi. Ia menghela nafas berat. Bingung bagaimana mengatur uangnya.
Saya tersenyum melegakan, "Dicukup-cukupkan. Insya Allah cukup!"
Dan yah... tentu saja budget 200ribu untuk seratus orang tidak cukup, maka amplop jatah 3 hari menjadi satu hari.
Lisda yang galau pun lapor, "amplop menipis, karena naik terus ke atas..."
Saya sempat ketar-ketir, dan Alhamdulillah, sebelum jatah buka puasa sebulan habis. Allah mengirimkan para donatur untuk santapan buka bersama kita.
Dari ibu-ibu solehah yang mengirim es, gorengan, bahkan berkardus-kardus air mineral. Ada juga sodagar buah asli kampung Sukabakti, engkong Dulamit yang senang sekali mengirimkan bertandan-tandan pisang, kelapa muda atau timun suri hasil panenan untuk kami.
Dan yang paling mengejutkan adalah kiriman Pizza dari salah seorang motivator yang dulu sempat kami undang di pembukaan Sukabakti Menghafal.
Pasalnya sehari sebelumnya ada santri kami sempat berkelakar saat mencaplok menu arem-arem dan bakwan yang hampir setiap hari terhidang. "Anggap aja ini pizza ya..."
Saya tersenyum kecut. Dalam hati saya berkata, "tuh... ada yang pengen pizza ya Allah."
Dan Allah langsung menjawab keesokan harinya, Allah kirim hamba-Nya untuk mentraktir kami pizza. Alhamdulillah....
Dan seperti jumat-jumat lainnya di hari biasa. Tradisi makan nasi liwet di atas daun pisang menjadi salah favorit santri tetap Rumah Quran Ar Rahman. Santri baru pun ikut merasakan keriangan yang sama. Mungkin bagi mereka itu bakal jadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan.
Dan tentu saja makan-makan tak pernah ada tanpa kerja keras para santri ibu-ibu yang setiap hari memutar otak bagaimana caranya memberi makan banyak santri dengan dana terbatas. Heheheh berasa di pesantren jadinya.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya