Perempuan itu Bernama Kartini

Image
(repost pernah dimuat di jakartakita.com)

Hari ini (21/4/2019), 140 tahun lalu lahirlah seorang Kartini yang dianggap sebagai tokoh wanita pengusung emansipasi wanita. Begitu istimewanya Raden Ajeng Kartini, hingga hari lahirnya setiap tahun selalu diperingati oleh seluruh warga Indonesia. Tak hanya sekedar dijadikan hari khusus setiap tanggal 21 April. Sejumlah seremonial simbolis pun menjadi bagian dari peringatan ini. Dari pawai keliling anak-anak yang berpakaian adat nasional, lomba kebaya, lomba memasak, dan lain-lainnya.
Seminar seputar peran serta perempuan di era modern yang katanya terinspirasi oleh perjuangan Kartini pun selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap peringatan. Kartini pun menjadi simbol dari sebuah pergerakan feminisme. Entah apakah mereka tahu apa sebenarnya arti feminisme. Apakah demikian yang dicita-citakan seorang Kartini?
Raden Ajeng Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di kota Jepara. Lahir sebagai perempuan dari kalangan ningrat yang me…

Flashback: Buka Bersama

Catatan harian bertanggal 26 Mei 2018:

"Saya mau sepanjang Ramadhan, kita buka puasa bersama di sini." Ujar saya suatu kali sebulan sebelum Ramadhan.
"Dananya darimana?" Lisda anak Engkong Ali sampai tersedak.
"Peserta kelas sore lebih dari seratus belum termasuk kru..."
"Jangan khawatir, Allah Maha Kaya. Allah yang atur..." Saya tersenyum optimis.
Dengan sedikit uang yang kami punya, beberapa hari jelang Ramadhan kami sudah memasuk-masukkan uang belanja harian buka bersama ke dalam amplop per hari. Jumlah tak banyak.
Ketika saya memberikan kepada Ibu Mia, seksi konsumsi. Ia menghela nafas berat. Bingung bagaimana mengatur uangnya.
Saya tersenyum melegakan, "Dicukup-cukupkan. Insya Allah cukup!"
Dan yah... tentu saja budget 200ribu untuk seratus orang tidak cukup, maka amplop jatah 3 hari menjadi satu hari.
Lisda yang galau pun lapor, "amplop menipis, karena naik terus ke atas..."
Saya sempat ketar-ketir, dan Alhamdulillah, sebelum jatah buka puasa sebulan habis. Allah mengirimkan para donatur untuk santapan buka bersama kita.
Dari ibu-ibu solehah yang mengirim es, gorengan, bahkan berkardus-kardus air mineral. Ada juga sodagar buah asli kampung Sukabakti, engkong Dulamit yang senang sekali mengirimkan bertandan-tandan pisang, kelapa muda atau timun suri hasil panenan untuk kami.
Dan yang paling mengejutkan adalah kiriman Pizza dari salah seorang motivator yang dulu sempat kami undang di pembukaan Sukabakti Menghafal.
Pasalnya sehari sebelumnya ada santri kami sempat berkelakar saat mencaplok menu arem-arem dan bakwan yang hampir setiap hari terhidang. "Anggap aja ini pizza ya..."
Saya tersenyum kecut. Dalam hati saya berkata, "tuh... ada yang pengen pizza ya Allah."
Dan Allah langsung menjawab keesokan harinya, Allah kirim hamba-Nya untuk mentraktir kami pizza. Alhamdulillah....
Dan seperti jumat-jumat lainnya di hari biasa. Tradisi makan nasi liwet di atas daun pisang menjadi salah favorit santri tetap Rumah Quran Ar Rahman. Santri baru pun ikut merasakan keriangan yang sama. Mungkin bagi mereka itu bakal jadi pengalaman pertama yang tidak terlupakan.
Dan tentu saja makan-makan tak pernah ada tanpa kerja keras para santri ibu-ibu yang setiap hari memutar otak bagaimana caranya memberi makan banyak santri dengan dana terbatas. Heheheh berasa di pesantren jadinya.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset