Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Belajar Mengaji Part 2


Kali ini catatan harian ini bertanggal 14 April 2016:

Hampir sebulan mengajar mengaji gratisan ke anak-anak tetangga. Makin hari jumlah murid semakin bertambah hingga saya terpaksa harus menolak anak-anak baru.  Alasannya saya tak punya waktu, toh saya bukan pengangguran juga.

Rasanya senang sekali melihat antusiasme anak-anak setiap masuk 'kelas' saya. Saya pun bahagia melihat satu persatu akhirnya murid saya bisa membaca dan menulis huruf Arab yang bersambung. Saya pun terharu akhirnya hafalan suratnya bertambah walaupun setiap pertemuan saya kudu mengulang setiap ayat minimal 20 kali. Sampai Sydney si anak bawang malah hafal duluan.

Suatu kali si Adam bocah Amrik, tak sengaja mengucap kata kotor di kelas karena gusar pada temannya. Kontan saya melotot dan marah.

"Adam!"

"He did first bu!" Adam menunjuk-nunjuk temannya.

"Tapi bukan alasan untuk kamu mengucap kata-kata yang buruk!" Saya masih marah.

"Why? Saya kan lagi marah. Memang orang Islam tak boleh marah."

"Marah boleh saja tapi tidak boleh melukai fisik atau hati orang lain."

"Sesungguhnya Allah murka kepada orang yang berperangai jahat dan berlidah kotor. Orang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, bukan yang suka melaknat, bukan yang berperangai jahat, dan bukan pula yang berlidah kotor." Lanjut saya mengutip hadits.

Sebenarnya bukan kali ini saja dia kedapatan mengucap kata kotor dengan entengnya saat marah. Sebelumnya, suami saya juga pernah memarahinya karena teriak-teriak memaki saudaranya dengan kata kotor dalam bahasa Inggris di halaman rumah. Maklum saya punya anak balita yang masih membeo ucapan orang. Tapi untungnya orang tuanya tidak balik marah ke kami tapi malah tambah mendamprat anaknya. 

"Tapi mengapa banyak orang Islam yang saya kenal juga berkata kotor", belanya.

Saya tersenyum, "Islam melarang keras bahkan mencandai teman dengan nama orang tua saja tidak boleh. Kalau ada orang Islam yang melakukannya, mungkin mereka tidak tahu".

"But why?", tanya tidak puas.

Saya jawab, "you are what you talk. Perkataan seseorang menunjukkan kepribadian seseorang. Seperti filosofi teko. Teko berisi air teh hanya akan menuangkan air teh ke gelas, teko berisi air kopi hanya akan menuangkan air kopi ke gelas, begitupun teko berisi air comberan hanya akan menuangkan teko berisi air comberan. Kalau kamu diibaratkan sebagai teko maka perkataan yang keluar dari mulut kamu menggambarkan level kamu seperti apa".

Sebetulnya pembelaan diapun ada benarnya. Di sekitar kita pun banyak sekali orang Islam yang tak bisa menjaga mulut. Bahkan perang kata-kata kotor marak di media sosial.

Oknum pendukung kubu politik yang satu mengata-ngatai kubu lainnya "sapi" atau "unta" begitupun sebaliknya mengata-ngatai dengan sebutan "kecebong". Siapapun mereka mungkin belum belajar Islam dengan baik.

Bagaimana kalau kita dikata-katai orang dengan perkataan buruk? Apakah kita harus membalasnya? Tidak perlu! Doakan saja yang terbaik. Membalasnya dengan perkataan yang buruk sama saja merendahkan kita ke levelnya. 

Soal dimaki-maki orang dengan perkataan kasar saya jadi ingat sebuah pengalaman lucu. Dahulu saya pernah diteror lewat email/sms lewat perempuan yang tidak saya kenal. Katanya saya "perebut laki orang", "bitch", "gatal", "pelacur" dan lain-lain.

Awalnya tentu saya sedih dan marah. Merasa saya bukan seperti yang dikatakan perempuan itu. Saya pun menelponnya baik-baik.

"Assalamualaikum, selamat siang, maaf ini siapa ya? Ada masalah apa dengan saya?"

Belum kelar pertanyaan saya, perempuan di ujung telpon pun segera memaki-maki saya. Sebenarnya saya mau menangis, tapi saya memberanikan diri untuk bertanya lagi.

"Maaf mbak... Memang suaminya siapa?"

Lagi-lagi dia merepet macam-macam bikin saya emosi. "Siapa nama suami Anda?"

Dan dia menyebut satu nama, yang katanya bekerja di kantor lama saya. Masalahnya saya tidak kenal. Akhirnya saya harus mengontak teman saya di kantor lama untuk mencari tahu siapa lelaki yang disebut-sebut oleh perempuan itu. Dan teman saya menemukannya. 

Saya pun rupanya mengenalnya hanya saja hampir tak pernah interaksi. Interaksi hanya sebatas email pekerjaan itupun tidak langsung tapi saya hanya dapat forward-an.

"Tolong bilang ke orang itu, istrinya ngamuk-ngamuk katanya saya dituduh merebut suaminya", pesan saya pada teman saya itu. Teman saya semula ragu untuk menyampaikannya tapi akhirnya dia menyampaikannya juga.

Dalam bilangan menit handphone saya berdering, rupanya si suami dan istrinya bergantian menelpon saya untuk meminta maaf. Saya pun hanya tertawa. Beberapa menit lalu saya berasa terjun ke jurang karena dimaki-maki istri orang dengan tuduhan selingkuh. Dan ternyata salah orang. Kok bisa???

Bagaimana si istri bisa punya email saya. Rupanya alamat email kantor lama saya ada di daftar kontak dan dia hanya asal tebak saja tanpa bukti akurat. 

Balik lagi ke kelas mengaji. Adam pun manggut-manggut. Sambil menunggu giliran mengaji. Dia pun mengerjakan worksheet yang sengaja saya buat. 

Biarpun cuma mengajar ngaji gratisan saya tidak 'ogah-ogahan'. Saya melengkapi ruang tamu yang jadi kelas sementara dengan white board, buku-buku dan aneka worksheet yang menunjang. 

Baru saja kelas tenang beberapa menit dan saya bisa bernafas lega, tiba-tiba 

"Bu, can I date with a girl?" Lagi-lagi pertanyaan Adam, bocah Amrik yang sebenarnya ada garis Pakistan ini membuat saya speechless. Bukan karena saya tidak bisa jawab, tetapi karena saya butuh waktu untuk mempertimbangkan jawaban saya 'masuk' di logika bocah berusia 12 tahun.

Takutnya salah ngomong malah jadi 'boomerang' buat saya ataupun dia.

"Can you please explain me what do you mean dating?"

Ok, sebelum saya menjelaskan saya harus tahu sejauh mana pengetahuan Adam tentang 'nge-date' atau pacaran ini.

"Jatuh cinta, trus bilang I love you. Trus, ya kita hang out bareng berdua, makan berdua, nonton berdua..."

"Ooo gitu...", saya pura-pura ber-o ria.

"Trus ngapain lagi?" Saya memancingnya lagi.

"Di Amerika sana, teman-teman saya biasa berciuman dan peluk-pelukan dengan pacarnya dari usia 9 tahun."

Waduh!

"Ya mereka malah tidak malu-malu melakukannya di school bus", Adam nyerocos.

Saya pun menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai menjelaskan, "dalam Islam kita tidak mengenal istilah dating atau pacaran. Karena pacaran biasanya awal dari zina".

Saya pun petikkan sebuah ayat tentang larangan mendekati zina.  Jangankan berhubungan intim di luar penikahan, tindakan mesum yang menjurus pun sudah dilarang keras.

"Tapi kenapa banyak orang Islam yang kukenal punya pacar?"

"Mungkin mereka belum tahu ilmunya, dear".

Dalam hati saya bilang lucunya banyak orang pinter keblinger yang suka 'memutar balikkan' ayat sesuka hati. Seperti minum alkohol tak apa asal tak memabukkan, zinah tidak apa asal tidak hamil. Naudzubillahimindzalik!

Beruntung jam sudah menunjukkan pukul 20.40 WIB. Yes, kelar! Saved by the bell! Bocah-bocah segera saya bubarkan, saya capek maksimal. 

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak