Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Ayat terakhir


Catatan harian bertanggal 5 Maret 2018:

"Inda..." gadis itu mengulurkan tangannya malu-malu menghampiri saya. Saya memandangi teman dekat adik lelaki saya yang kedua lekat-lekat dari atas sampai ke bawah.
Saya masih ingat bagaimana gadis bernama Inda itu delapan tahun lalu datang memperkenalkan diri di hadapan keluarga kami hingga menorehkan kenangan manis yang mungkin sulit untuk kami lupakan.
Gadis periang yang supel itu dengan cepat mencuri hati kami. Siapa yang tidak suka dengan Inda, gadis manis yang saat itu berstatus teman dekat adik saya. Apalagi setelah saya tahu, tanggal lahir kami berdekatan. Sama-sama pisces, makhluk paling sensitif dan cinta damai.
Ketika saya ada di titik nol pasca kecelakaan parah di penghujung tahun 2010. Dialah yang paling setia menyambangi saya di kamar perawatan. Padahal kala itu, adik saya dan dia masih pedekate. Dia yang menghibur saya di saat-saat sulit.
Selepas saya sembuh setelah tiga bulan terapi. Hubungan saya dan Inda makin intens. Saya suka dia. Dan saya menjadi pendukung nomer satu hubungan adik saya dan dia.
Boleh dibilang Inda dan saya setipe. Hari-hari berikutnya merupakan hari-hari terbaik kami.
Ketika saya harus menghabiskan hampir sepanjang kehamilan saya di ranjang rumah sakit dan rumah, maka dia yang paling rajin datang menemani saya. Membawa makanan kesukaan saya, hadiah kecil atau malah hanya mampir membawa cerita lucu yang membuat saya terpingkal-pingkal lupa kalau sedang 'bed rest'.
Inda masih rajin menyambangi saya ketika Sydney bayi. Dia bahkan beberapa hari pernah menginap di rumah kala saya hanya berdua dengan Sydney.
Beberapa kali Inda datang bersama mamanya. Yang jelas hubungan kami sangat baik.
Suatu hari, Inda dan mama mengunjungi rumah saya. Mama dan ibu saya tiduran di ranjang yang sama, mama bilang, "kalau misalkan anak kita tidak berjodoh. Saya harap kita tetap bersaudara seperti ini." Ibu saya mengiyakan.
Begitulah hari-hari indah kami lewatkan. Hingga tetiba di penghujung 2013, saya tak lagi melihat Inda. Inda seperti menghilang begitu saja dari kehidupan kami dengan membawa kabar tak sedap. 🤦🏻‍♀️
Sebuah alasan yang sangat cukup untuk kami bersama-sama menjauhi Inda yang memang sudah menarik diri. Hubungan kami dengan Inda dan keluarganya pun putus begitu saja. Saya yang kehilangan, tak sudi mencarinya. Meski saya merindukannya.
Empat tahun kemudian, di penghujung 2017, Inda mengabarkan kalau mama koma. Dia meminta maaf atas segala khilaf mama kepada saya. Entah mengapa, kemarahan saya pupus begitu saja berubah iba. Saya pun meluangkan waktu untuk mengunjungi sang mama yang terbaring tak berdaya di sebuah rumah sakit besar yang cukup jauh dari rumah saya.
Ya saya datang sendirian menyambangi mama. Inda yang tak percaya saya datang, canggung memeluk saya. Dia mempersilahkan masuk melihat mama yang terbaring lemah dengan beragam alat bantu nafas yang menempel di tubuhnya.
Sebuah ponsel yang ditaruh di dekatnya memutar mp3 murottal ayat suci Al Quran. Saya minta izin untuk menggantikan suara murottal itu dengan suara saya sendiri.
Setelah dapat izin, saya pun mendekat. Meraih tangan mama dan membisikkan, "ini Risma datang mama."
Tangan mama tetiba merespon. Saya pun murojaah surah Ar Rahman dan Al Mulk, karena saya pikir dua surah itu mewakili pikiran dan perasaan saya saat itu tentang kondisi mama.
Lamat-lamat suara lantunan ayat suci yang saya lantunkan terdengar memenuhi ruangan. Seingat saya, saya membaca dengan sepenuh hati hingga air mata saya tumpah. Dan saat saya menyelesaikan murojaah saya, tangan mama memegang erat saya. Badannya mulai bergerak-gerak gelisah. Subhanallah....
Saya pun pamit pulang karena hari beranjak sore. Inda memperkenalkan kepada seluruh keluarganya bahwa saya adalah Risma kakak mantannya dulu. Ada haru yang menyeruak saat saya meninggalkan koridor kamar VIP tempat mama dirawat intensif. Seluruh pasang mata menatap kepergian saya.
Inda bilang, para dokter bilang kondisi mama membaik. Seorang dokter spesialis jantung yang menangani mama bilang, itu keajaiban Quran. Sang dokter bilang, kalau bisa Inda cari orang yang bisa membacakan quran dengan merdu setiap hari di telinga mama.
Inda meminta kesediaan saya untuk datang mengaji tiap hari ke rumah sakit. Saya bilang, saya harus mengajar.
Inda tanya lagi, apakah ada kenalan yang bisa datang untuk mengaji? atau lebih baik lagi anak yatim yang bisa mengaji agar lebih mujarab doanya. Saya tersenyum bingung.
Akhirnya saya mengusulkan video call saja. Saban malam selepas saya mengajar saya akan mengaji untuk mama. Deal!
Dan malam itu saya gelisah. Saya tergesa-gesa menyelesaikan kelas saya. Saya ingat Inda dan Mama. Akhirnya saya bisa online untuk mengaji sekira pukul 9 malam.
Wajah mama terlihat damai, dia sudah bisa tersenyum menatap saya. Dan tetiba di akhir surat An Nahl ayat 61, Mama menatap tajam ke arah saya kemudian terpejam perlahan. Telepon terputus.
Beberapa menit kemudian, Inda mengabarkan kalau Mama berpulang. Mama pergi untuk selamanya tepat di akhir surat An Nahl ayat 61
‎فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ ﴿٦١﴾؅
".....Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun."
Takdir! Di akhir hayatnya mama seperti ingin bilang bahwa dia tak ingkar janji. Kita masih "saudara" meski tak ada lagi hubungan antara Inda dan adik saya.
Dan Allah sengaja memilih saya yang menemaninya di akhir hayatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya