Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Alhamdulillah Its Friday



Catatan harian bertanggal 10 Maret 2017:

Alhamdulillah Its Friday!

Bagi kami hari yang paling istimewa dalam seminggu adalah hari Jumat. Bukan hanya karena hari Jumat adalah Sayyidul Ayyam, lebaran kecil umat Islam dimana pahala sedekah Insya Allah diganjar berkali lipat. Juga karena di hari Jumat kami makan-makan.

Tiga hari jelang hari Jumat, anak-anak biasanya sudah sibuk mengumpulkan uang receh untuk mereka belikan makanan dan minuman sebagai hidangan gratis bapak-bapak yang solat Jumat di masjid. Sepulang membagikan sedekah berupa makanan dan minuman, biasanya mereka buru-buru pulang ke rumah saya. Yang putri solat berjamaah dengan saya dahulu baru menyiapkan makan siang bersama. Malamnya pun kita makan bersama.

Makan bersama di hari Jumat jadi momen yang paling ditunggu oleh anak-anak. Bahkan ada dua santri yang ketahuan beberapa kali absen sekolah demi bisa ikut makan siang di hari Jumat. Hingga akhirnya saya me-list siapa saja yang masuk siang, siapa yang masuk pagi agar tidak ada kejadian anak bolos demi bisa ikut membagikan makanan/minuman gratis lalu makan bersama di rumah saya.

Jumat ini adalah kali pertama kami makan bersama di tempat yang baru. Kali ini personelnya tidak hanya 20-an orang tetapi 60-an. 

Dan kali ini bukan hanya saya yang memasak. Alhamdulillah Jumat kali ini kami dapat banyak kiriman makanan dari para ibu yang anaknya ikut mengaji. Juga dari simpatisan, termasuk sahabat saya mas @delly.

Sebenarnya menu makan bersama kami di hari Jumat tidak mewah. Hanya menu sederhana namun kami memakannya dengan penuh suka-cita hingga butir nasi yang terakhir. 

Jumat kali ini terbilang istimewa. Alhamdulillah impian kecil kami satu persatu mulai terwujud. Ruangan kelas yang memadai dengan fasilitas yang jauh lebih baik.

Kami punya alat peraga mengajar Al Quran untuk anak-anak special needs seperti Down Syndrome sumbangan dari adik saya @ratih. Juga ada karpet-karpet juga perlengkapan solat dari @niesa. 

Satu impian kami yang belum terwujud. Kami ingin piknik sekalian tadabbur alam. Karena banyak anak yang kurang piknik. Tidak pernah jalan jauh-jauh. 

Rencananya sih, sebelum Ramadhan saya mau ajak anak-anak 8 tahun ke atas untuk menginap di salah satu vila di Bogor. Bukan sembarang piknik, tapi semacam outbound yang penuh dengan kegiatan edukasi. 

Saya ingin undang teman-teman hebat saya yang dokter, presenter TV, pengusaha atau profesi lainnya untuk memberikan inspirasi agar anak-anak yang kebanyakan orang tuanya hanya ART atau buruh cuci tidak takut bermimpi. Agar suatu hari nanti nasib mereka tidak sama dengan orang tua mereka. Karena semuanya dimulai dari mimpi. 

"Bu kapan kita piknik...?" Shiva salah satu santri favorit saya yang ibunya tukang cuci gosok tetangga saya bertanya.

"Insya Allah sebelum Ramadhan..." Jawab saya.

"Bayar gak bu?" Tanya Shiva dengan tatapan cemas.

Saya tersenyum, "Insya Allah tidak ya".

Muka mereka mendadak cerah. 

"Uangnya dari mana?" Tanya Najwa. 

"Insya Allah nanti ada jalan". 

"Atau kita jualan saja bu, nanti kan dapat uang", usul Safiga.

"Jualan apa?" Tanya saya.

"Ibu yang masak, nanti kami yang jual. Masakan ibu kan enak tuh"

Saya tertawa cekikikan, terus kapan kita ngajinya kalau saya mesti masak dan kamu jualan.

"Oh iya...", Safiga baru menyadari.

Insya Allah, doa yang kenceng ya nak. Insya Allah kita bakalan piknik. 

"Hore!!!!" Anak-anak bersorak kegirangan. 

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya