Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Aku Cinta Kamu Mirah


Catatan harian bertanggal 31 Juli 2017:

Tirta memandang sendu pada Mirah yang sedang bercengkerama dengan Asni dari kejauhan. Mirah, perempuan yang secara tiba-tiba mengubah hidupnya, menjadi penuh warna. Perempuan yang membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkannya.

Ah, seandainya Tirta punya cukup waktu untuk merebut hati Mirah, jauh sebelum Mirah menerima pinangan Asni. Pastilah Tirta tidak semerana ini. Mungkin yang bersanding di istana cinta mendampingi Mirah adalah dirinya bukan Asni. Lelaki beruntung, yang kini memiliki Tirta.

“ Tuhan, mengapa hidupku terasa membelit seperti ini. Mengapa harus Mirah yang hadir dalam hidupku yang gersang. Bukan perempuan lajang lainnya. Mengapa kau tidak tumbuhkan sedikit cinta pun di hatiku kepada perempuan-perempuan pengagumku. Mengapa harus Mirah?” Gumam Tirta di balik pohon. Matanya memang terlihat memandang lurus ke depan. Namun alam pikirannya melayang jauh.

Wajah Mirah berkelebat di pelupuk matanya. Senyumnya, ekspresi matanya yang melenakan, keluguannya, semangatnya, ah…..

Tirta masih merasa ini adalah sebuah kesalahan suratan takdir. Seharusnya dirinya yang berada di sisi Mirah, bukan Asni. Seharusnya dirinya, bukan Asni!

Gigi Tirta saling bergemeratak menahan emosinya yang meletup-letup. Rasa cintanya pada Mirah yang menggila, membuat dirinya posesif dan seperti menginginkan Mirah seutuhnya. Tidak hanya sebagai penggemar rahasia yang hanya bisa mengagumi dari kejauhan. Yang hanya bisa bercumbu dengan bayangnya di kesenyapan yang menyiksa.

“ Arrggggggghhhhhhhh….” Tirta bergumam.

Bagaimana bila takdir berbalik. Asni menghilang, lenyap di telan bumi. Maka mungkin, dirinya masih punya kesempatan untuk merebut hati Mirah. Atau misalkan Mirah harus bercerai dengan Asni. Maka dirinya akan hadir menjadi dewa penolong buat Mirah.

Buru-buru Tirta menepis angan bodoh sekaligus jahat itu dari pikirannya. Tirta tidak bisa membayangkan betapa menderitanya Mirah bila harus kehilangan separuh jiwanya, Asni. Tiba-tiba ingatan Tirta melayang pada suatu waktu. Kala Mirah mengungkapkan rasa hatinya.

“ Bagiku Asni adalah separuh nafasku. Aku mencintainya sepenuh jiwaku, melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri. Kami saling memuja dan mencinta. Aku adalah tulang rusuk yang dicipta Tuhan untuknya. Bila dia pergi, mungkin aku akan mati…”

Raut wajah Tirta berubah sedih. “ Ah… untuk apa merebut Mirah bila cintanya tidak pernah ada untukku. Jangan-jangan sedetikpun diriku tidak pernah ada di hati atau pun di pikirannya.” Tirta bergumam.

“ Aku cinta kamu, Mirah.” Tirta bergumam pelan di antara semilir angin.

Entah kekuatan dari mana yang tiba-tiba menyelusup dalam dada Tirta hingga memantapkan hatinya. Tak penting apakah Mirah mencintainya atau tidak, yang terpenting dirinya memuja dan mencintai Mirah. Bilakah Tuhan tidak pernah mempertemukannya dengan Mirah di Dunia. Mungkin Tirta ingin menuntut keadilan Tuhan untuk mempertemukannya di akhirat.

***keterangan foto: Mirah berkebaya biru, Asni (jawara baik) suami Mirah itu berbaju pangsi biru, Tirta (jawara jahat sebenarnya kakak Asni) berbaju pangsi hitam.***

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya