Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flashback: Aisyah


Catatan harian ini bertanggal 11 September 2017. Aisyah bukan nama sebenarnya untuk melindungi identitas yang sesungguhnya.


"Saya takut ibu....polisi dimana-mana..." Aisyah, gadis kecil itu menangis sesenggukan di malam yang menggigit selepas hujan.

Gadis kecil yang merupakan salah satu murid pertama saya baru saja mengalami peristiwa yang paling mengerikan dalam hidupnya. Ayahnya dicokok polisi setelah membacok saudaranya karena masalah harta warisan.

Keluarga Aisyah tinggal di seberang komplek. Meski ayah Aisyah pemabuk, Aisyah adalah gadis cilik yang pintar dan solehah. Dahulu dia salah satu murid kesayangan saya, namun belakangan dia sering bolos mengaji.

"Saya malu bu! Saya malu melihat tatapan anak-anak lain karena ulah ayah saya. Saya takut diejek. Makanya saya sering bolos mengaji." Ujarnya suatu hari, saya diam memandanginya yang menangis.

"Justru buktikan bahwa kelak kamu akan jadi anak solehah yang akan menyelamatkan orang tua kamu dari neraka!"

"Tapi saya bu.... takut diejek".

"Katakan pada saya kalau ada yang seperti itu, biar saya marahi mereka. Jangan jadikan hinaan orang sebagai penghalang. Justru jadikan itu sebagai cambuk, biar kamu jadi anak pintar, solehah yang kelak akan menjadi kebanggaan orang tua."

Seharian kemarin adalah hari yang mengerikan buat kami terutama buat dia. Pos satpam di depan rumah jadi seperti ladang pembantaian dengan darah yang berceceran di mana-mana. Rupanya perseteruan kakak beradik itu berlanjut. Ayah Aisyah yang mabok, mencari-cari kakaknya sambil menghunus golok. 

Qadarallah, kakaknya sedang pulas tertidur di pos satpam rumah saya. Tanpa ba bi bu lagi, pria yang sudah kesetanan itu menyabetkan golok ke kaki dan kepala. Sedang kami penghuni hanya melihat dari sudut teraman. Beberapa warga yang melintas berteriak histeris sambil berlarian.

Aksi brutal lelaki itu baru berhenti setelah salah satu warga yang juga merupakan ayah dari murid saya menghajarnya. Namun pos satpam sudah banjir darah. Korban dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam keadaan sekarat. Rumah sakit tidak bisa menyambung kembali kakinya karena banyak urat yang putus. 

Pihak keluarga memindahkan korban ke rumah sakit umum yang lebih lengkap dan gratis. Namun kami harus membayar uang perawatan di rumah sakit sebelumnya.

Sepanjang malam, polisi berjaga di sekitar rumah kami. Warga berdatangan mencari tahu.

"Bu, bagaimana hidup kami setelah ini?" tanya Aisyah pilu dengan wajah yang basah.

"Tidak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, sayang. Ini semua rencana Allah. Dan pasti ini yang terbaik! Insya Allah ini akan jadi pelajaran terbaik
untuk semuanya."

"Bu, boleh saya kapan-kapan main ke rumah ibu."

"Boleh kalau saya ada di rumah...", jawab saya. Toh selama ini dia bebas keluar masuk rumah saya. Dan beberapa kali saya ajak jalan keluar. 

"Bu, tapi saya takut. Saya bingung...", malam kian larut dan mulai beranjak pagi.

"Ada Allah sayang! Biar Allah yang bantu! Hasbunallah wa ni'mal wakiil. Nanti saya bantu doa....Sebagai anak pertama, kamu harus bantu jaga adik-adik. Harus tegar biar mama kamu tegar juga."

"Bu apa iya saya masih bisa jadi anak solehah?"

"Bisa! Kesholehan seseorang tidak menurun kok. Semua orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi baik..."

"Bu...saya takut!"

"Ssstttt tidurlah sayang! Sudah hampir pagi! Kamu sudah terlalu banyak menangis hari ini. Ada Allah! Allah pasti akan mengirimkan bala bantuannya untuk menjaga kamu lewat saya, dan lainnya."

Akhirnya mata Aisyah terpejam. Dia teramat lelah seharian kemarin. Peristiwa yang mungkin tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya.

Aisyah, gadis kecil itu belum genap berusia 11 tahun harus menanggung beban hidup yang berat. Dan saya diberi kesempatan Allah untuk melihatnya agar saya sadar bahwa saya bukanlah orang yang paling malang sedunia. Ujian saya tidak seberapa dibanding orang-orang lain.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya