Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flashback: Adam dan Bulu Ketek


Catatan harian ini bertanggal 14 Juli 2016:

Masih ingat dengan Adam si bocah Amrik, salah satu murid ngaji saya? Iya, dia bocah 13 tahun yang selalu punya segudang pertanyaan kritis untuk saya. 

Saya yang mengenalkan dia huruf hijaiyah dari awal begitupun angka Arab di akhir bulan Februari. Kini dia sudah bisa membaca Al Quran, walau dia masih harus belajar banyak soal tajwid.

Kedua orang tuanya sibuk. Hingga mungkin dia tak bisa berdiskusi banyak hal kepada mereka. Maka sesi mengaji menjadi hal yang menyenangkan buat dia.

Sebenarnya sesi mengaji baru dimulai 18.30 namun biasanya dia sudah mengetuk pintu rumah saya 10 menit setelah azan maghrib. Dia mencuri start agar bisa segera memulai sesi mengajinya sebelum murid lainnya datang.

Suatu hari, Adam yang tingginya jauh di atas saya bertanya dalam bahasa Inggris, "kapan bulu ketek saya tumbuh?"

Saya senyum, "when you get puberty". 

"When?"

Saya pandangi si bocah ABG di hadapan saya dari atas sampai bawah, "soon dear".

"Tapi kapan bu?", Adam penasaran. Saya kok jadi membayangkan dia Sydney.

"Soon. Berbarengan dengan tumbuh bulu-bulu lainnya. Suara kamu juga berubah berat. Dan suatu hari kamu akan bermimpi", jawab saya.

"You mean nightmare?"

"Bukan! Mimpi yang lain yang membuat kamu terbangun dalam keadaan seperti ngompol".

"Is it good dream?".

Saya jawab, "I think so".

"Aku harus apa bu?"

Saya jawab, " kalau sudah puber ya ibadahnya harus semakin bagus. Sholatnya jangan bolong-bolong."

"Tapi aku belum bisa sholat bu", mendengar jawaban Adam, kepala saya jadi pening. Maka sepanjang bulan Mei, saya harus membuatkan kursus shalat intensif untuk Adam dan kawan-kawannya. 

Adam pun mulai rajin shalat. Meski terkadang masih harus membawa contekan bacaan sholat yang sudah saya laminating.

Dan tiba-tiba Adam berubah menjadi lebih pendiam. Dia tak suka lagi bercanda dengan si adik dan teman-temannya. Adam lebih suka menghabiskan waktu di kamar. Dengan saya yang biasanya 'lengket' terlihat mulai jaga jarak. 

Hingga saat lebaran saya sengaja mengajaknya berbicara. "Setelah lebaran kita mulai lagi ya ngajinya, maaf kemarin sepanjang Ramadhan saya super sibuk, jadi sering tidak di rumah".

Adam masih tak bicara. 

"Are you okay Adam?"

Adam menjawab "yes" namun dengan suara yang lebih ngebas. Sebulanan 'off' mengaji, dan kini Adam sudah puber.

Saya tersenyum mafhum, "apakah si bulu ketek yang dinanti sudah datang?"

"sssttt, bu! Its secret between us!"

"Iya deh", jawab saya. 

"Jangan lupa sholat ya Adam. You are not little boy anymore..."

Adam mengangguk malu-malu. Dan dia menunduk. Kami terdiam seribu bahasa. 

"Bu, mulai minggu depan saya tidak ngaji lagi..."

"Loh kenapa? Marah sama saya?"

"No, why should angry?"

"Lalu?"

"Saya harus kembali ke Connecticut", dia kembali menunduk.

Saya melongo dibuatnya, "secepat itu? Katanya kamu mau bareng berangkatnya sama saya?" Loh kok nada suara saya jadi bergetar. Saya sedih. 

"Thank you bu for everything..."

"Sama-sama ya Adam. Be a good boy there! Jangan lupa shalat yaaa. Ngajinya diteruskan. Jaga diri baik-baik!" Hampir saja saya menangis.

"Saya akan ingat ibu.... Saya pasti akan mengunjungi ibu lagi. Di sini atau di rumah ibu di Queens. Saya sayang ibu..." Saya jadi membayangkan lagi kalau dia Sydney. 

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak