Baju untuk Shalat

Image
Sepekan setelah kembali dari kampung halaman. Kami memang sudah beraktifitas seperti sedia kala. Hanya saja, kenangan indah selama di kampung halaman masih belum bisa hilang dari ingatan. 
Masih segar dalam ingatan ketika sepupu saya, Aqil menjadi pemandu saya mengunjungi rumah-rumah yang masuk kategori fakir miskin di gunung. Mobil harus jalan menanjak di medan sempit yang diapit jurang dan tebing. Harus supir yang cukup mumpuni untuk bisa jalan di medan seperti itu. Saya yakin, mobil city car apalagi super car juga tak akan mampu menembus medan yang cukup curam itu.
Sore itu, selepas Ashar dengan sedikit tenaga yang tersisa jelang bedug Maghrib. Saya, Aqil dan supir berencana mengantar sembako. Aqil yang mendata keluarga mana saja yang darurat dibantu. 
Mobil pun tiba di pemberhentian terakhir, dan kami harus jalan kaki melanjutkan perjalanan dengan harus menggotong barang-barang. Tubuh kecil saya dan Aqil yang kebetulan lagi puasa agak terhoyong menahan berat, berjalan miring samb…

Flash Back: Di sinilah Petualangan Dimulai

Catatan harian bertanggal 8 Maret 2017:

Sebenarnya hari Senin, kelas belum resmi dimulai. Saya masih menunggu anak-anak mengembalikan formulir. Sembari menunggu, saya membolehkan anak-anak lama mengaji tapi dengan pesan, "tolong jangan bilang yang lain kalo kita ngaji hari ini. Belum ada tempat".

Namanya juga anak-anak. Jangan harap rahasia tetap rahasia. Tiba-tiba selepas Maghrib, tiga puluhan anak yang belum kebagian jadwal mengaji di sore hari datang bergerombol menyambangi rumah saya. Seketika muka saya menjadi pias. Subhanallah, mau ditaruh mana mereka?

Saya bahagia sekaligus bingung dan panik. Ibu Eko partner saya yang kebetulan ada di rumah saya ikut kelimpungan. Dia langsung menelpon orang. Setelah menutup teleponnya dia pun dengan pasti berkata, "yuk kita pindah sekarang juga!"

"Tapi kemana?"

"Sudah ikut saja, Insya Allah ini lebih baik dari dua pilihan sebelumnya, madrasah yang suram dan rumah orang kaya itu!"

Buru-buru saya kumpulkan anak-anak sebelum memobilisasi mereka entah kemana. Dan rupanya bu Eko membawa kami ke rumah kosong di seberang komplek.

Rumah yang sudah kosong setahunan itu milik keluarga Engkong Samid, untuk anak lelakinya yang bernama Engkong Iing. Betawi tulen. 

Waktu kami datang. Rumahnya sudah siap sekali untuk dipakai ngaji. Karpet sudah digelar, air minum sudah siap.

Engkong Ali bilang, "pake aja neng... Daripada ni rumah kosong dihuni jin mending pada ngaji di sini dah. Engkong mah kagak bisa apa-apa. Cuma bisanya ini. Ngajar ngaji kagak 'gablek' ya bisanya eni doangan. Kalo minum mah, engkong yang sediain. Makan juga kalo engkong sempet. Lagian kan engkong juga bentar lagi mati. Kagak bawa ape-ape. Nah paling bawa amalan doang. Ini bekal engkong ntar".

Saya mendengarnya sambil berkaca-kaca. Alhamdulillah....

Akhirnya malam itu kami mengaji di teras yang luas. Sengaja kami ambil teras di hari pertama agar orang-orang bisa melihat seperti apa pengajiannya. Apakah saya mengajarkan aliran tertentu. 

Tua muda berkerumun, ikut melihat. Hingga belakangan banyak para orang tua yang ingin ikut bergabung atau memasukkan anaknya.

"Terus engkong kalo saya ditegur pak RT gimana?" Saya khawatir.

"Biar engkong tar yang ngadepin. Yaelah gitu doangan...ini pan taneh engkong juga."

Alhamdulillah suasana kelas lebih kondusif. Kini saya tidak 'berjuang' sendirian. Ruangan besar sudah disulap jadi kelas sungguhan. Ada sejumlah guru tambahan yang siap membantu saya. Tak hanya mengajar ngaji tetapi bahasa Arab, Inggris dan Jepang.

What's next? Wallahualam bisshawab. Belum tahu, jalani saja episode yang ini.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset

5 Blogger Favorit Saya