Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Flash Back: Di sinilah Petualangan Dimulai

Catatan harian bertanggal 8 Maret 2017:

Sebenarnya hari Senin, kelas belum resmi dimulai. Saya masih menunggu anak-anak mengembalikan formulir. Sembari menunggu, saya membolehkan anak-anak lama mengaji tapi dengan pesan, "tolong jangan bilang yang lain kalo kita ngaji hari ini. Belum ada tempat".

Namanya juga anak-anak. Jangan harap rahasia tetap rahasia. Tiba-tiba selepas Maghrib, tiga puluhan anak yang belum kebagian jadwal mengaji di sore hari datang bergerombol menyambangi rumah saya. Seketika muka saya menjadi pias. Subhanallah, mau ditaruh mana mereka?

Saya bahagia sekaligus bingung dan panik. Ibu Eko partner saya yang kebetulan ada di rumah saya ikut kelimpungan. Dia langsung menelpon orang. Setelah menutup teleponnya dia pun dengan pasti berkata, "yuk kita pindah sekarang juga!"

"Tapi kemana?"

"Sudah ikut saja, Insya Allah ini lebih baik dari dua pilihan sebelumnya, madrasah yang suram dan rumah orang kaya itu!"

Buru-buru saya kumpulkan anak-anak sebelum memobilisasi mereka entah kemana. Dan rupanya bu Eko membawa kami ke rumah kosong di seberang komplek.

Rumah yang sudah kosong setahunan itu milik keluarga Engkong Samid, untuk anak lelakinya yang bernama Engkong Iing. Betawi tulen. 

Waktu kami datang. Rumahnya sudah siap sekali untuk dipakai ngaji. Karpet sudah digelar, air minum sudah siap.

Engkong Ali bilang, "pake aja neng... Daripada ni rumah kosong dihuni jin mending pada ngaji di sini dah. Engkong mah kagak bisa apa-apa. Cuma bisanya ini. Ngajar ngaji kagak 'gablek' ya bisanya eni doangan. Kalo minum mah, engkong yang sediain. Makan juga kalo engkong sempet. Lagian kan engkong juga bentar lagi mati. Kagak bawa ape-ape. Nah paling bawa amalan doang. Ini bekal engkong ntar".

Saya mendengarnya sambil berkaca-kaca. Alhamdulillah....

Akhirnya malam itu kami mengaji di teras yang luas. Sengaja kami ambil teras di hari pertama agar orang-orang bisa melihat seperti apa pengajiannya. Apakah saya mengajarkan aliran tertentu. 

Tua muda berkerumun, ikut melihat. Hingga belakangan banyak para orang tua yang ingin ikut bergabung atau memasukkan anaknya.

"Terus engkong kalo saya ditegur pak RT gimana?" Saya khawatir.

"Biar engkong tar yang ngadepin. Yaelah gitu doangan...ini pan taneh engkong juga."

Alhamdulillah suasana kelas lebih kondusif. Kini saya tidak 'berjuang' sendirian. Ruangan besar sudah disulap jadi kelas sungguhan. Ada sejumlah guru tambahan yang siap membantu saya. Tak hanya mengajar ngaji tetapi bahasa Arab, Inggris dan Jepang.

What's next? Wallahualam bisshawab. Belum tahu, jalani saja episode yang ini.

Comments

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak