Berburu Dokter Spesialis Anak

Image
Sebelumnya, saya hampir tidak punya dokter spesialis anak favorit untuk anak saya Sydney. Semua terjadi begitu saja dan saya sama sekali tidak sempat survey untuk memilih rekanan dokter spesialis untuk anak. 
Sydney lahir prematur dengan beragam riwayat kesehatan yang mengharuskan dia mendapatkan perawatan khusus di salah satu rumah sakit swasta ternama di Bintaro. Dan Qadarallah, Sydney ditangani oleh dokter spesialis anak-anak prematur yang akhirnya menjadi dokter Sydney sampai dia usia hampir dua tahun. 
Setelah itu Sydney lebih banyak ditangani oleh dokter-dokter di Hermina Ciputat. Dua kali dirawat inap untuk kasus yang hampir sama yaitu diare. Selebihnya hanya penyakit biasa, yang terngeri ya flu Hongkong, gejala demam ala flu tapi muncul bintik-bintik seperti cacar.
Hanya saja sejak pertengahan tahun lalu, Qadarallah Sydney tetiba batuk tak sembuh-sembuh. Batuknya sih tidak parah hanya seperti berdehem, tapi cukup mengganggu buat saya orang tuanya. Sebelumnya memang Sydney rad…

Flash Back: Di sinilah Petualangan Dimulai

Catatan harian bertanggal 8 Maret 2017:

Sebenarnya hari Senin, kelas belum resmi dimulai. Saya masih menunggu anak-anak mengembalikan formulir. Sembari menunggu, saya membolehkan anak-anak lama mengaji tapi dengan pesan, "tolong jangan bilang yang lain kalo kita ngaji hari ini. Belum ada tempat".

Namanya juga anak-anak. Jangan harap rahasia tetap rahasia. Tiba-tiba selepas Maghrib, tiga puluhan anak yang belum kebagian jadwal mengaji di sore hari datang bergerombol menyambangi rumah saya. Seketika muka saya menjadi pias. Subhanallah, mau ditaruh mana mereka?

Saya bahagia sekaligus bingung dan panik. Ibu Eko partner saya yang kebetulan ada di rumah saya ikut kelimpungan. Dia langsung menelpon orang. Setelah menutup teleponnya dia pun dengan pasti berkata, "yuk kita pindah sekarang juga!"

"Tapi kemana?"

"Sudah ikut saja, Insya Allah ini lebih baik dari dua pilihan sebelumnya, madrasah yang suram dan rumah orang kaya itu!"

Buru-buru saya kumpulkan anak-anak sebelum memobilisasi mereka entah kemana. Dan rupanya bu Eko membawa kami ke rumah kosong di seberang komplek.

Rumah yang sudah kosong setahunan itu milik keluarga Engkong Samid, untuk anak lelakinya yang bernama Engkong Iing. Betawi tulen. 

Waktu kami datang. Rumahnya sudah siap sekali untuk dipakai ngaji. Karpet sudah digelar, air minum sudah siap.

Engkong Ali bilang, "pake aja neng... Daripada ni rumah kosong dihuni jin mending pada ngaji di sini dah. Engkong mah kagak bisa apa-apa. Cuma bisanya ini. Ngajar ngaji kagak 'gablek' ya bisanya eni doangan. Kalo minum mah, engkong yang sediain. Makan juga kalo engkong sempet. Lagian kan engkong juga bentar lagi mati. Kagak bawa ape-ape. Nah paling bawa amalan doang. Ini bekal engkong ntar".

Saya mendengarnya sambil berkaca-kaca. Alhamdulillah....

Akhirnya malam itu kami mengaji di teras yang luas. Sengaja kami ambil teras di hari pertama agar orang-orang bisa melihat seperti apa pengajiannya. Apakah saya mengajarkan aliran tertentu. 

Tua muda berkerumun, ikut melihat. Hingga belakangan banyak para orang tua yang ingin ikut bergabung atau memasukkan anaknya.

"Terus engkong kalo saya ditegur pak RT gimana?" Saya khawatir.

"Biar engkong tar yang ngadepin. Yaelah gitu doangan...ini pan taneh engkong juga."

Alhamdulillah suasana kelas lebih kondusif. Kini saya tidak 'berjuang' sendirian. Ruangan besar sudah disulap jadi kelas sungguhan. Ada sejumlah guru tambahan yang siap membantu saya. Tak hanya mengajar ngaji tetapi bahasa Arab, Inggris dan Jepang.

What's next? Wallahualam bisshawab. Belum tahu, jalani saja episode yang ini.

Comments

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

5 Blogger Favorit Saya

Liburan 'Backpacker' Kaum Jetset