Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hikmah Berbuka dengan yang Manis



Alhamdulillah, akhirnya hari yang ditunggu umat Islam sedunia pun tiba. Ramadhan hari pertama untuk Indonesia, jatuh hari ini, Senin, 6 Mei 2019. 

Waktu saya menulis ini, jam masih menunjukkan pukul 09.15 WIB. Masih sekitar 9 jam sebelum waktu buka puasa. Saya masih terlalu pagi untuk memikirkan ta'jil atau kudapan untuk pembuka puasa. 

Tapi tak apa, puasa hari pertama harus diganjar dengan persiapan buka yang istimewa. Istimewa tak selalu harus mewah bukan?

Ingat esensi berpuasa yang sesungguhnya adalah belajar menahan hawa nafsu sekaligus belajar empati terhadap fakir miskin dan dhuafa. Seharusnya kalau konsep ini yang dijalani oleh umat Islam. Momen bulan Ramadhan justru mengurangi jatah belanja harian, jadi punya banyak untuk disedekahkan. Tetapi sayangnya, momen bulan Ramadhan biasanya pengeluaran malah semakin banyak. Bukan untuk sedekah, tetapi untuk memenuhi hasrat pribadi.

Yang hari biasa biasanya cukup makan dengan sederhana. Bulan puasa tetiba jadi serba wah. Tak hanya makanan 4 sehat lima sempurna tetapi aneka jajanan pasar dan es terhidang di meja makan, mirip seperti restoran. Restoran dan pusat jajan pun penuh sesak oleh konsumen yang katanya puasa dan siap memborong semua hidangan istimewa untuk 'membalas dendam' karena sudah berpuasa.

Sebetulnya apa sih yang harus terhidang di meja makan saat membatalkan puasa?

"Berbukalah dengan yang manis!"


Sebenarnya apakah menu berbuka puasa harus selalu serba manis? 

Dari terakhir kali makan, yaitu saat sahur, simpanan gula darah akan terus menurun sepanjang hari karena kita tidak mendapat asupan makanan lain. Gula darah adalah sumber energi utama tubuh. Itu lah mengapa kita mudah merasa lemas dan ngantuk di bulan puasa. 

Untuk menggantikan energi yang hilang ini, kita butuh menu berbuka puasa yang tepat. Gula bisa cepat meningkatkan kadar gula darah yang turun setelah berpuasa. Namun, kebanyakan makanan manis yang menjadi tradisi berbuka puasa di Indonesia, seperti teh manis, aneka es manis atau malah kolak, tidak memiliki gizi yang cukup untuk menggantikan nutrisi yang hilang selama seharian beraktivitas. Makanan manis ini justru bisa menurunkan gula darah dengan sangat drastis setelah makan. Akibatnya, kita merasa lemas dan ngantuk setelah buka puasa.

Lalu, apa tidak boleh makan makanan manis yang mengandung gula? Idealnya, menu berbuka puasa sebaiknya memang yang manis untuk mengembalikan energi. Namun kata beberapa dokter dan ahli gizi yang pernah saya temui, sebaiknya kita tidak mengonsumsi banyak makanan atau minuman manis dengan gula tambahan. Selain dapat membuat gula darah merosot drastis, asupan kalori dan gula yang terlalu banyak bisa membuat berat badan malah naik meski sedang berpuasa. 

Lalu makanan manis apa yang bisa kita pilih untuk berbuka puasa?

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.” (HR. Abu Daud no. 2356 dan Ahmad 3/164, hasan shahih)

Lebih baik pilih makanan manis alami yang juga mengandung serat dan bernutrisi tinggi, seperti: kurma, buah segar, buah kering, jus buah atau es buah tanpa pemanis tambahan. Jadi bukan es sirup atau kolak, apalagi gorengan.

Rasulullah shallahu 'alaihi wassalam biasa berbuka dengan 3 butir kurma dan air putih sebelum shalat maghrib. Mengapa harus kurma?

Menurut berbagai sumber, satu butir kurma ukuran sedang, memiliki kandungan sekitar 23 kalori, 6,2 gram karbohidrat dengan 5,3 gram gula dan 0,7 gram serat. Jika dibandingkan dengan segelas teh manis hangat, kandungan gulanya bisa lebih tinggi lagi, tergantung dari berapa banyak takaran yang kita pakai. Satu sendok makan gula pasir (13 gram) mengandung 50 kalori, 13.65 gram karbohidrat, dan 13,65 gram gula. 

Makan 3 butir kurma memberikan sekitar 69 kalori dalam sekali berbuka puasa. Namun, buah kurma juga mengandung serat, protein, mineral dan vitamin B6 yang penting untuk tubuh. Jadi kurma mengandung segala kebaikan dalam berbuka puasa. 

Ada baiknya tidak tergesa untuk berbuka dengan es dahulu. Netralkan perut dengan air putih hangat atau suhu normal baru es kalau mau. 

Lalu apakah setelah ta'jil bisa langsung makan besar? Ada baiknya tahan nafsu untuk tidak langsung 'kemaruk' memakan semua yang terhidang di meja makan sebelum menunaikan shalat maghrib. Jaga perut juga biar tak langsung berontak diisi segala macam. Baiknya makan bertahap hingga kelar shalat tarawih. Agar kita tak langsung KO selepas buka puasa dan malah tidak shalat tarawih.

Jadi sudah tahu kan mau berbuka puasa dengan apa hari ini?


Comments

  1. Tapi mba kl saya setelah sholat magrib harus langsung makan nasi, soalnya kl makan yg lainnya malah gak bisa makan nasi nnt...hehe
    Mungkin tergantung kebiasaan juga kali yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama kayak emak dan babeh saya juga gitu mbak, kudu nasi dulu..... Saya tipe yang mesti sering makan ketimbang sekaligus. Jadi makannya dicicil. Salam kenal mbak e....

      Delete
  2. wa ini bener banget sih mbak, berbuka memang nggak selalu harus dengan yang manis lho. malah kalo terlalu berlebihan gulanya perut jadi nggak enak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak