Ketika Hijrah Menjadi Pilihan

Image
Bismillah!
Ceritanya hampir 2 minggu lalu, seorang kolega di sarang elang yang kini sudah berhijrah dan rajin mengirimi saya agenda kajian-kajian sunnah di seluruh penjuru Bintaro, BSD, dan sekitarnya mengirimi saya flyer tentang kajian hijrah yang digelar hasil kerja bareng MT Khoirotunnisa, nge-Fast, dan komunitas yukngaji!
Yang menarik dari kajian ini adalah kita semacam dibantu untuk kembali menemukan hakikat hidup yang sebenarnya sebelum berhijrah. Karena terkadang kita yang terlahir Islam menganggap sepele sebuah hakikat ke-Tauhid-an. Tahu adanya kewajiban shalat lima waktu dan ibadah lainnya, tapi tak pernah paham esensinya. Tahu kalau kita harus datang ke kajian, tapi kadang kita masih tebang pilih syariat, bahkan terkadang 'tidak berani' melangkah terlalu jauh. Tahu kalau tak ada sehelai daun yang jatuh tanpa sepengetahuan Allah, tapi tetap menangis meraung-raung ketika ujian datang. 
Dan di kajian sebanyak 9 kali pertemuan ini mengulas tuntas esensi hijrah, tentang mafa…

Hijab Syar'i Tak Perlu Tutorial



Saya masih ingat beberapa tahun ke belakang, saat saya belum 'berhijrah'. Rasanya bangga sekali bisa tampil cantik dengan hijab saya. Saya tidak yakin itu hijab atau hanya selembar kain yang menutupi rambut, dengan model hijab dan pakaian masa kini. Dan saya termasuk yang merasa 'gerah' bila melihat akhwat yang berhijab syar'i. Sungguh sama sekali tidak modis.
Setiap hari saya sibuk memadu-madankan kerudung dengan pakaian dan aksesoris lain. Gaya hijab gaul mana yang belum pernah saya coba? Dari kepang samping, lilit, menjuntai ala poni lempar atau malah turban. Namun akhirnya model hijab 'turban' menjadi trademark saya. 
Sungguh Allah Maha Pembolak-balik hati. Ketika saya akhirnya mulai serius belajar dan menghafal Al Quran, lambat laun hati saya melunak dan mudah menerima kebenaran. Kandungan surat An-Nur ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59 menampar hati saya bolak-balik. Justru Allah menunjukkan 2 dalil itu lewat perantaraan pertanyaan polos bocah tentang apa itu hijab.
Tetiba saya terhenyak, betapa saya bertahun-tahun sudah menutupi rambut tapi sama sekali belum masuk kategori berhijab. Mematuhi perintah untuk menutup rambut tapi belum berhijab. Sekalipun menutup aurat tapi masih ingin terlihat cantik dengan 'beda'-nya itu.
Dalam Surat Al-Ahzab ayat 33, “…Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu…” 
Mereka yang berhijab benar-benar untuk mengharap ridha dari Allah akan selalu memperhatikan syariat berhijab, yaitu di antaranya:
  1. Hijab itu longgar, sehingga tidak menampakkan lekuk-lekuk tubuh.
  2. Tidak transparan, hingga tidak kelihatan sedikit pun bagian tubuhnya.
  3. Tidak memakai wangi-wangian.
  4. Tidak menjadi korban mode, meskipun itu mode busana muslimah.
  5. Tidak memilih warna kain yang 'ngejreng' sehingga menjadi pusat perhatian orang.
  6. Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain wajah dan kedua telapak tangan.
  7. Hendaknya tidak menyerupai pakaian laki-laki sehingga bab hal ini dilarang oleh syara’.
  8. Tidak menggunakan busana muslimah untuk pamer.
Sebelum berhijrah rasanya ribet kalau kemana-mana pakai gamis. Sekarang biasa saja. Malah saya terbiasa memakai gamis untuk hiking di bukit. Its not a big deal! Tetap lincah, toh di dalam gamis ada celana panjang. 

Dengan berhijrah, semakin menyederhanakan cara berhijab. Kalau dahulu penyuka warna 'ngejreng'. Sekarang gamis hitam, biru dongker jadi favorit. 

Berhijab syar'i tidak perlu tutorial, apalagi sekarang banyak himar instan. Tinggal 'slurp' masuk ke kepala. Hijab lebar pun sudah siap. Praktis!

Tanyakan lagi niatmu, kalau kamu masih ingin terlihat cantik dengan hijab syar'i-mu. Jangan-jangan tujuanmu bukan Allah. Tapi hanya sekedar mode. 

*noted to my self*


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Resolusi Tahun 2019

Sirplus, Solusi Minum Obat Puyer untuk Anak